Ibu merekam ini lewat gawai di kamar isolasi Covid ke notaris Nugroho. Dengan harapan, pada waktunya ia dapat menghubungimu untuk mengurus segala sesuatunya yang Ibu tinggalkan kepadamu lewat suara ibu ini.

Ibu mulai dari awal.

Pertama, Ibu minta maaf tidak seppt mengenalkan ayahmu. Ia seorang anggota TNI, berpangkat mayor. Almarhum meninggalkan kita saat kau masih dalam kandungan. Pesawat yang ditumpanginya hilang di tengah hutan belantara Papua.

Agar tidak mengganggu perkembanganmu, semua foto dan peninggalan lainnya Ibu simpan di lemari di kamar Ibu. Kuncinya saya titipkan mas Nugroho. Mas Nugroho adalah notaris yang menerima rekaman ini atas permintaanku.

Kedua, Ibu tahu kau sangat marah ketika Ibu menjemputmu di sekolah dulu. Kau malu karena kawan-kawanmu mengetahui Ibu bermata satu. Karena itu, Ibu minta ketua yayasan memindahkanmu ke sekolah yang lain.

Ibu, juga tahu, alasanmu minta sekolah di luar negeri adalah untuk menghilangkan jejak keadaan Ibu itu.

Tetapi, walau pun sejak itu kita tidak bertemu, setiap malam, Ibu berdoa untukMu dan belakangan setelah kau menikah juga berdoa untuk anak dan istrimu. Sebentar lagi juga sudah tengah malam. Saatnya harus berdoa untukmu walau di ruang isolasi Covid rumah sakit.

Saya lanjutkan lagi, ya Nak.
Ketiga, Ibu juga tahu kau marah besar terhadap Ibu karena tanpa sepengetahuanmu Ibu mengunjungi rumahmu di Melbourne. Ibu tidak marah, walau kau pura-pura tidak mengenal dan bahkan menyuruh Ibu segera meninggalkan rumah itu dengan alasan anak dan istrimu bakal takut jika melihatku.