Di ketiga pasar ini bahasa perdagangan yang digunakan adalah bahasa Muna. Bapak yang sehari-hari berbahasa Wolio, jadi terpaksa harus belajar bahasa Muna untuk melariskan dagangan beliau. Bisa berbahasa Muna ini kemudian sangat membantu Bapak ketika dalam perjalanan hidupnya sekarang beliau didaulat sebagai salah satu sesepuh warga Sulawesi Tenggara di Kalbar.
Begitulah Bapak. Selalu ada bahan cerita jika menginap di rumah anak-anaknya. Atau pas kami kumpul-kumpul di rumah beliau. Ceritanya tak pernah putus. Kadang ada materi yang diulang, tergantung pada sisi mana beliau ingin menitipkan pesan tentang hidup dan kehidupan kepada anak cucunya.
Pagi ini, saya beruntung mendapat cerita yang sama sekali baru, belum pernah disampaikan sebelumnya. Ini semua berkat buku tentang masyarakat Gu-Lakudo.(*Penulis adalah aktivis sosial masyarakat dan lingkungan hidup. Menetap di Kota Pontianak)
