Kata beliau, petugas menjelaskan kalau tabungan pensiun tak bisa diambil lewat ATM, harus tarik di bank langsung. Selain itu, setiap bulannya tabungan pensiun harus ditarik habis.
“Saya biasanya cuma tarik Rp. 500 ribu sebulan, ndak habis. Itu yang buat bermaslah dan buat tak cair beberapa bulan terakhir”, kata Bu Salimin yang juga pegawai di Selimbau.
Kata beliau, susah kalau harus tarik lewat bank langsung. Rumah beliau jauh dari bank ataupun kantor pos. Repot kata beliau.
Seribet itukah mengambil dana pensiun? Patutlah, setiap awal bulan, di kantor pos, banyak pensiunan pegawai yang antri. Dulu saya bertanya-tanya, kenapa tak diambil lewat ATM saja? Sekarang saya temukan jawabannya. Saat saya menunggu antrian untuk menjadi anggota TASPEN.
Tapi, entahlah. Saya sendiri belum tahu bagaimana jelasnya alur pencairan dana pensiun tiap bulannya. Belum dapat banyak informasi. Semoga ada perubahan sistem ini, kelak. Agar saat saya tua nanti tak harus seribet ini mencairkan hak yang memang sudah seharusnya diterima. Amin. (*)
