Dengan kecewa anak itu mundur, ke luar dari antrian menuju ujung lorong. Dengan hati-hati ia menerawangkan celengan di bawab lampu.
Tak lama kemudian Pak guru Loman sudah berdiri di samping anak itu, sambil bertanya,
“Kau sedang mengintai apa, Nak? Ada binatangkah di celengan itu?”
“Bukan, Pak!” Jawab anak itu, tanpa menoleh.
“Lalu apa yang kau lihat?”
“Coba lihatkan! Apakah betul uang ini tak cukup untuk membeli boneka ini?” sambung si anak.
“Coba Bapak lihat harganya, Nak?”
“Oh dua bulan gajiku” Bisiknya dalam hati. Secara diam-diam Pak guru Loman memasukkan sejumlah uang ke dalam celengan anak itu, sambil berkata,
“Ayo kita buka. Kita hitung lagi, ya”
Mata anak itu langsung bersinar, sambil berteriak.
“Lebih Pak. Saya juga masih dapat membeli setangkai bunga mawar putih. Tuhan mengabulkan permohonanku. Aku hanya minta uang cukup untuk membeli boneka kesayangan adik. Tetapi, malah diberi lebih. Aku dapat membeli bunga mawar putih”
“Boleh, Bapak bertanya sebelum kau ke kasir, Nak?”
“Ya, Pak. aku masih ada waktu sedikit. Mak pasti menungguku”
“Kenapa kau, anak laki-laki, berkeras hati membeli boneka dan juga bunga mawar?”
“Boneka ini kesukaan adik. Dulu, aku berjanji jika tabungan ini sudah cukup pasti kubelikan!” Berhenti sejenak. Lanjutnya,
“Aku harus membeli sore ini karena, kata ajah, mak tidak lama lagi berangkat menjemput adik. Boneka ini biar dibawa mak supaya adik mau diajak balik’
“Bunga mawar?”
