“Mak sangat senang bertanam bunga. Tetapi belum punya mawar putih, mahal. Mak suka sekali dengan mawar putih. Aku juga janji akan membelikan bunga mawar warna putih. Bunga itu akan kubeli sekarang juga. Biar dibawa mak pergi menjemput adik.Pasti adik bahagia sekali”
“Oh. Baik. Cepat ambil bunga itu dan pulanglah segera! Atau, Bapak antar dengan mobil”
“Tak usah Pak. Aku bawa sepeda. Apa lagi gang sempit di dalam. Dengan sepeda lebih cepat sampai rumah. Mak pasti sudah menunggu. Ayo, Pak”
Di penginapan, setelah maakan malam, Pak guru Loman sempat membaca berita lokal. Di pojok bawah ada berita kecelakaan. Tabrakan. Sepeda motor yang dikendarai anak muda mabuk menabrak sepeda pancal yang dikendarai seorang ibu berboncengan dengan anak kecil usia TK. Si anak meningal di tempat, dan ibunya luka berat.
Esok harinya, di halaman pelabuhan, sambil menunggu jam keberangkatan, pak guru Loman membuka koran terbitan hari itu. Di kolom yang sama dengan berita kemarin dilanjutkan. Di kabarkan bahwa si ibu juga meninggal menyusul anaknya.
Pak guru Loman membatalkan kepulangannya dan menitipkan uang gaji serta belanjaan pada Toke Acun. Ia bergegas ke rumah duka.
Di sana, ia melihat di tangan kiri almarhumah memegang sekuntum bunga mawar putih dan di tangan kanan sebuah boneka. Setelah berdoa di dekat peti jenasah ia bergegas kembali ke penginapan.
Di kampung, kawan-kawannya meributkan belanjaan Pak Loman yang hanya beras, ikan asin dan teh. Tidak seperti biasanya.
“Untung, ia belum beristri, Kalau sudah…..” Kata seorang kawan sejawatnya.
“Kalau sudah, apa maumu?!” potong sang istri lantang.
