Hingga pada hari ini, 15 Januari 2021 saya membaca tulisan mengenai ‘dikuburnya’ Club Menulis IAIN Pontianak. Diumumkan dalam launching terakhir satu dasawarsa melalui virtual.

Saya mendapatkan link kegiatan itu, tetapi, kegiatan di kantor membuat saya tidak dapat mengikutinya. Karena itu apa yang disampaikan di sana hanya dari “mendengar” dan membaca.

Tapi walau begitu, saya dapat rasakan kesedihan ketika membaca tulisan salah satu perintis Club Menulis Dr. Yusriadi; berjudul “Pusara Club Menulis IAIN Pontianak”.
Saya teringat teori kebijakan publik yang diajarkan dosen di kampus. Sebuah kebijakan harus didukung dengan kebijakan lain agar berjalan maksimal. Jika kebijakan berjalan sendiri, dia akan pincang.

Club Menulis berjalan tertatih-tatih setelah penggagas program tak lagi duduk di posisi semula dan mengawalnya dengan kebijakan beasiswa dan dukungan moral. Kabarnya, sudah lama tidak ada prioritas untuk Club Menulis sekalipun produknya telah menjadi kebanggaan bersama –dipamerkan dan disebutkan dalam banyak kesempatan dan forum.

Walaupun tertatih, club masih bisa jalan. Masih lahir karya-karya. Club Menulis tetap menjadi wadah lahirnya karya dan menumbuhkembangkan budaya akademik. Sebenarnya, hingga hari ini, hingga terpendam dalam pusaranya.
Salam ta’zim dari alumni Club Menulis. (*)