in

Pusara Club Menulis IAIN Pontianak

club menulis iain pontiaanak

Oleh: Yusriadi

Kamis, 14 Januari 2021 merupakan hari yang berat bagi pengurus Club Menulis IAIN Pontianak. Saat launching buku Ketua Club Menulis IAIN Pontianak yang sekarang termasuk salah seorang pembinanya, Farninda Aditya, mengumumkan “pamit” dan Club Menulis ditutup.

Farninda sendiri, saat menyampaikan sambutan, tak dapat menahan rasa. Suaranya serak dan matanya berkaca-kaca. Lalu, ketika Wakil Rektor 1 Dr. Firdaus menyampaikan sambutan, menanggapi pamitan Farninda dengan menyebut, “Saya bukan menyampaikan sambutan di atas pusara Club Menulis…”. “Saya tidak rela lahir batin Club Menulis ditutup”.. , tangis bu dosen yang dikenal tomboy dan selembe itu pecah. Air mata yang meleleh diusapnya dengan kerudung. Ingus yang keluar dilap dengan tisu.

Tangis itu sekali lagi tumpah bersama tangis Mita Hairani, alumni yang kini menjadi pembina di SMA Al-Adabiy; dan Saripaini, alumni yang kini menangani Rumah Literasi FUAD. Farninda tidak mampu menahan perasaan ketika mendapat telepon dari pendiri Club Menulis, Dr. Hermansyah, dua jam setelah acara berakhir.

Baca Juga:  BUAF ke-5, Wisata Akademik Mahasiswa IAIN Pontianak

Saya tidak ikut menangis, sekalipun berada dalam dua momen itu. Saya mengikuti pendirian, pengembangan, dan menyaksikan pengebumian Club Menulis. 10 tahun perjalanan, lebih dari 6 kali pindah ruangan. Berpuluh kali launching. Ratusan anggota sudah terdaftar dan gugur. Ratusan buku dihasilkan dan dipromosikan. Puluhan ilmuan dan tamu manca negara datang berkunjung. Banyak alumni sudah jadi kebanggaan.

Lika-liku organisasi ini hampir semuanya saya ketahui. Beberapa buku ditulis untuk mendokumentasikan proses itu. Dan, saya juga tahu lingkungan di mana Club Menulis hidup dan berada.

“Club Menulis mungkin memang sudah waktunya ditutup. Club sudah dilihat seperti virus. Parasit yang perlu dimusnahkan… Lihat, beberapa tahun ini Club memang tidak penting. Sekalipun, baru kemarin saya dihubungi, dipinjami piala untuk akreditasi”.
“Club boleh tutup, tetapi, kita tetap menulis. Kita tetap berkarya. Inilah cara untuk eksis, untuk ibadah, sesuai dengan minat dan keterampilan kita. Jangan cengeng. Mungkin mereka senang melihat kita mati. Tapi, kalau kita ikut mati, kita yang rugi sendiri. Ayo, semamgat. Targetkan setiap minggu menulis, atau setiap tahun ada buku dihasilkan”.

Baca Juga:  IAIN Pontianak Siap Membuka Program Pasca Sarjana Komunikasi

Saya berusaha memecahkan keheningan. Memberikan motivasi sebisanya. Berlagak bijak, walaupun sebenarnya saat menyebutkan parasit… saya seperti ingin meledak, ingin menumpahkan perasaan.

Tapi, wis, sebenarnya jauh sebelum ini para pengurus memang sudah menceritakan banyak hal. Tidak mudah mereka mengambil keputusan. Dan saya tahu mereka menangis bukan menunjukkan diri lemah. Mereka adalah orang-orang yang kuat. Sudah kaya asam garam kehidupan.

Club Menulis, bagi saya, memang garansi mengenai ketangguhan (terutama dalam berkarya). Mereka yang tumbuh dan berkembang serta “lulus” dalam proses di situ memiliki semangat dan kemampuan yang luar biasa. Gerenti punya, kata orang Malaysia.

Tetapi, kini, “benda” yang bisa menjadi garansi itu sudah tiada. Dikuburkan dengan tangis kesedihan pengurusnya.
Selamat tinggal (*)

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

IMG 20210114 WA0077

PASS: Maju Serantau

hasil kebun

Panen “Agronomi” Setahun Pandemi