“Nah…itu dia masalah di Masjid kita”, celeletuk salah satu dari peserta. Audiense tertawa ringan. Sementara, bapak-bapak yang sepuh tampak senyum-senyum pahit mendengar celetukan salah satu peserta itu.

“Nah, itulah salah satu masalah kita hari ini. Kita-kita yang sudah sepuh ini seringkali enggan menyerahkan pengelolan masjid kepada yang lebih muda. Memang agak repot jika masjid dikelola sama orang-orang yang sudah berumur seperti saya, dan kita-kita yang sudah berumur ini. Terlebih jika masjid kita diurus oleh para pensiunan pns”, hatur Tok Ya sambil melempar senyum kepada audiense.

“Kalau saya tau diri. Sejak awal berdirinya Masjid Kapal Munzalan, saya menyerahkannya kepada Ustaz Luqmanulhakim. Saat itu umur beliau baru 30an tahun. Saya serahkan semua kepada beliau. Dan saya selalu akan bilang YA dengan apapun rencana yang disampaikan oleh Ustaz Luqmanulhakim. Makanya, saya dipanggil dengan panggilan Tok Ya. Tok itu singkatan dari datok. Sinomim dari kakek, orang yang sudah tua yang sudah bercucu.. Jadi Tok Ya berarti kakek-kakek yng selalu mengatakan Iya dengan anak-anak muda” jelas Tok Ya sambil senyum-senyum.

“Tapi ingat! Kita jangan sekedar hanya bisa mengatakan iya saja. Kita yang tua-tua harus memberikan support. Harus memberikan dukungan. Dukungan penuh. Bahkan korbankan apa yang kita punya untuk mendukung anak-anak muda. Nah, di Masjid Kapal Munzalan ini, hanya itu yang saya lakukan”, jelas Tok Ya.

Setelah itu, Tok Ya hening. Tak lama beliau melemparkan pertanyaan kepada auidinse yang sebagian besar berunur di atas 50 tahun.

“Jadi, apakah bapak-bapak berkenan mepercayakan pengelolaan masjid kita kepada anak-anak muda?”, tanya Tok ya.