Oleh: Nur Iskandar
Siapa yang tak kenal sejarahwan gaek milik Himpunan Mahasiswa Islam Dahlan Ranuwihardjo asal Pekalongan-Jawa Tengah? Tokoh-tokoh sentral pendiri HMI seperti Lafran Pane dkk hapal dalam batok kepalanya. Pak De sapaan akrabnya diundang datang ke Pontianak era 1990-an dan merapat ke Gedung Asrama Haji dalam melatih kepemimpinan lanjutan–Intermediete Training–populer juga dengan sebutan Latihan Kepemimpinan Dasar II–disingkat LDK-II.
Pak De dijemput di bandara oleh aktivis HMI yang kini sudah jadi Direktur Politeknik Negeri Sambas Drs H Mahyus, M.Si dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kabupaten Sambas, Minhani, SE. Saya memotret peristiwa jemputan di Bandara Soepadio–saat itu masih Pontianak–karena belum pemekaran menjadi Kubu Raya–karena saya adalah reporter kampus sekaligus pegiat di Lembaga Pers Mahasiswa Islam. Pak De di Asrama Haji di hadapan puluhan insan cita HMI pasti “menciak-ciak” dengan ilmu ke-HMI-annya. Saya pun berdecak kagum.
Adalah unik di dalam foto di atas adalah HM Nur Hasan. Dari mana asal usul HMI-nya? Rupanya, saat itu aktivis HMI kerap kali memakmurkan Mesjid Raya Mujahidin di mana Nur Hasan adalah takmir yang secara idiologis meneruskan cita-cita sang pendiri dan inisiator berdirinya Mesjid Raya Mujahidin–H Ahmad Mawardi Dja’far. Antara Ahmad Mawardi Dja’far dengan Pak De pun berteman. Maka Nur Hasan ikut dalam jemputan. Pak De saat itu menginap di Hotel Kartika Chandra yang menatap keindahan Sungai Kapuas dan Pelabuhan Dwikora Pontianak selain luasnya halaman Taman Alun Kapuas–Makorem 121 Alambana Wanawai serta Kantor Walikota Pontianak.
