in

1/2 Abad + 1th “Tokya” Nur Hasan

1.5 Abad 1th Tokya Nur Hasan

Oleh: Nur Iskandar

Siapa yang tak kenal sejarahwan gaek milik Himpunan Mahasiswa Islam Dahlan Ranuwihardjo asal Pekalongan-Jawa Tengah? Tokoh-tokoh sentral pendiri HMI seperti Lafran Pane dkk hapal dalam batok kepalanya. Pak De sapaan akrabnya diundang datang ke Pontianak era 1990-an dan merapat ke Gedung Asrama Haji dalam melatih kepemimpinan lanjutan–Intermediete Training–populer juga dengan sebutan Latihan Kepemimpinan Dasar II–disingkat LDK-II.

Pak De dijemput di bandara oleh aktivis HMI yang kini sudah jadi Direktur Politeknik Negeri Sambas Drs H Mahyus, M.Si dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kabupaten Sambas, Minhani, SE. Saya memotret peristiwa jemputan di Bandara Soepadio–saat itu masih Pontianak–karena belum pemekaran menjadi Kubu Raya–karena saya adalah reporter kampus sekaligus pegiat di Lembaga Pers Mahasiswa Islam. Pak De di Asrama Haji di hadapan puluhan insan cita HMI pasti “menciak-ciak” dengan ilmu ke-HMI-annya. Saya pun berdecak kagum.

Adalah unik di dalam foto di atas adalah HM Nur Hasan. Dari mana asal usul HMI-nya? Rupanya, saat itu aktivis HMI kerap kali memakmurkan Mesjid Raya Mujahidin di mana Nur Hasan adalah takmir yang secara idiologis meneruskan cita-cita sang pendiri dan inisiator berdirinya Mesjid Raya Mujahidin–H Ahmad Mawardi Dja’far. Antara Ahmad Mawardi Dja’far dengan Pak De pun berteman. Maka Nur Hasan ikut dalam jemputan. Pak De saat itu menginap di Hotel Kartika Chandra yang menatap keindahan Sungai Kapuas dan Pelabuhan Dwikora Pontianak selain luasnya halaman Taman Alun Kapuas–Makorem 121 Alambana Wanawai serta Kantor Walikota Pontianak.

Pak De bercerita bahwa HMI lahir pada 5 Februari mepet dengan kelahiran Nur Hasan, 7 Februari dan ibundanya Hj Halijah HM Saleh justru bersamaan dengan tanggal lahir HMI, yakni 5 Februari. Di antara mereka ada kerapatan yang lekat, termasuk Nur Hasan punya ayahanda, H Hasan Har, BA merupakan kader HMI di Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) HMI Cabang Pontianak masa kepengurusan Ir Faisal Makmur Mukti.

“Saya tak sempat masuk HMI karena sejak SMP-SMA sudah di Mujahidin dan ketika kuliah sudah berinteraksi dengan Bang Imaduddin Abdurrahim tokoh sentral HMI bahkan Cak Nur–Prof Dr Nurcholis Madjid,” kata Nur Hasan yang kini mengembangkan pola kemakmuran mesjid dengan trio huruf MSQ, yakni Mesjid-Subuh-Quran. “Mesjid tempatnya. Subuh waktunya. Quran kontennya.” Demikian kata takmir senior Mujahidin yang selalu mendampingi inisiator berdirinya Mesjid Raya Mujahidin HA Mawardi Dja’far tokoh sentral Muhammadiyah pada zamannya hingga tutup usianya. Nur Hasan sempat menuliskan biografi hidup HA Mawardi Dja’far dengan judul “Setetes Embun Penyejuk Jagat” diterbitkan Penerbit Universitas Tanjungpura Press di masa Rektor Prof H Mahmud Akil, SH dengan dua penulis pendamping masing-masing sejarahwan muda Syafaruddin Usman dan saya. Di dalam buku yang launching tahun 1993 dengan editor Prof Dr Syarief Ibrahim Alkadrie, M.Sc itu tergambar relasi antara para tokoh di Muhammadiyah yang garis lurusnya berhubungan erat dengan HMI serta tokoh-tokoh nasional Masyumi, bahkan Petisi 50 seperti Deliar Noer, mantan Perdana Menteri Muhammad Natsir, Akbar Tandjung, hingga tokoh politik AM Fatwa.

Sebagai reporter yang aktif meliput sejak saat itu, saya juga menyempatkan diri berfoto bersama pegiat kemakmuran mesjid yang kini harum namanya sebagai pendiri Mesjid Kapal bernama Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin di mana telah menasional di 24 provinsi seluruh Indonesia.

*

Walaupun Nur Hasan adalah abang kandung saya dan kami besar sekamar sejak balita hingga Abangnda Nur Hasan menikah tahun 1992, tak banyak pengetahuan saya tentang ilmu kemakmuran mesjid. Termasuk perkembangan Mesjid Raya Mujahidin atau Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin. Saya baru dapat segudang informasi kala menemani Abangnda menemui Boss Semen Tonasa–Korporasi Bosowa–kelahiran Sulsel–mantan anggota MPR RI–Aksa Mahmud di Mesjid Sunda Kelapa. “Ndar ketahuilah bahwa mesjid yang paling makmur di Jakarta bukannya Istiqlal tetapi Sunda Kelapa,” kata Bang Nurhas–sapaan akrab saya yang kelak kemudian setelah Nurhas memperoleh cucu pertamanya, sapaannya berubah menjadi datok. Dan karena hampir setiap ide anak-anak muda di Munzalan Mubarakan dielu-elukannya menjadi “jadi” tidak pernah berkata tidak, selalu saja “Iya”, maka sapaan akrabnya saat ini adalah Tokya. Datok yang suka meng-iya-kan apa saja ide-ide brilian demi kemakmuran mesjid. Kemakmuran mesjid di Kalbar bias dan pias menyala dari pertumbuhan dan perkembangan mesjid kapal Munzalan Mubarakan. Laporan terakhir saya baca, bahwa Gerakan Infak Beras seluruh Indonesia sudah hampir menyentuh angka 1.000 ton di tahun 2020. Bergerak di 24 provinsi. Menyentuh hampir 300.000 santri penghapal Quran dan Yatim-Piatu. Sebuah pergerakan angka dakwah yang besar dan ratusan miliar…

Baca Juga:  Ikan Semah, Primadona Setelah Arwana

Tokya menahkodai Munzalan Mubarakan bersama Kyai Kabir–Lukmanul Hakim, SE, MM–alumni Pondok Pesantren Modern Gontor serta alumni Magister Management dari Selangor/Kuala Lumpur, Malaysia. Dua imam Munzalan yang sejak ayah kedua mereka bersahabat–Hasan dan Husni–serta dua kakek mereka bersahabat karib pula di desa terpencil era 1900-an–batas pinggir Selatan Kotamadya Pontianak: HM Saleh dan HM Godek. Trah saudagar dan ulama di Sungai Raya Dalam.

*

Hari ini 7 Februari 2021, genap setengah abad plus 1 tahun Tokya. Saya jadi mengingat masa di mana Abangnda mengajak “terbang” ke Mesjid Sunda Kelapa. Kala itu Kamis, malam Jumat. Kami inap di Hotel Sofyan Betawi yang dibelah dua jalur jalan saja menghadap Mesjid Tua Ibukota bernama Tjut Meutia–mesjid yang sekarang sedang dalam pemugaran besar-besaran menghadirkan dai sejuta umat Prof Dr UAS–Ustadz Abdul Somad dan Gubernur DKI Prof Dr Anies Baswedan. Mesjid tua sebagai cagar budaya Jakarta.

Sepanjang inap di Hotel Sofyan Betawi–baru kali ini setelah dua puluh tahunan kami tidak tidur sekamar. Maka kali ini nyaris kami tidak tidur karena saling bercerita. Bertukar pengalaman. Si Abang dengan ilmu kemasjidan, sedangkan saya ilmu liputan. Pertautan tokoh dan peristiwa dengan membongkar latar belakang dan esensi pergerakan mereka di lokal Kalbar, maupun nasional-internasional–bahkan dunia-akhirat. Ada urusan mental yang tak boleh ciut seperti mental tempe dan kerupuk. Dalam berjihad haruslah liyut!

Tokya bercerita soal masa remaja di SD Imaduddin–wakaf tanah ibundanya Hj Halijah yang lahir persis kelahiran HMI 5 Februari yang selalu menegasikan upaya memperkuat kemerdekaan Indonesia dengan nilai mencari ridho Allah SWT, dan SMP-SMA Mujahidin yang dibesarkan oleh tokoh-tokoh HMI dan Muhammadiyah–lekat dengan dua kata: Jihad (Mujahid) dan Muhammad SAW–Rasulullah. Lalu Nur Hasan studi ekonomi di STIE Boedi Oetomo dengan aktor intelektual Drs H Dg Yakim Noor, seorang tokoh nasional berasal dari keluarga besar Masyumi. Putra Dg Yakim Noor sekarang adalah Kepala Dinas Kehutanan, Ir H Adiyani, MH. Bersama dengan Tokya merawat wakaf H Sakke di mana kini berdiri Tsanawiyah dan SMA Boedi Oetomo di Sungai Raya Dalam–Parit Haji Husin sekaligus beririsan dengan Madrasah Ibtidaiyah Imaduddin wakaf dari Hj Halijah–sementara Munzalan Mubarakan berada di sebelah Imaduddin.

Tokya bercerita tentang dinamika Boedi Oetmo, Imaduddin, Ikhwanul Mukminin, STIS, SMK Madani, Mujahidin dan tentu saja fase-fase monumental pertumbuhan dan perkembangan Munzalan Mubarakan Ashabul Yamin dengan gebrakan GIB (Gerakan Infak Beras) hingga Sedekah Akbar mapun Subuh Akbar Kalbar. Gebrakan yang punya ruh dakwah garis bawah, namun berimplikasi politis menyatunya sikap politik umat Islam. Tidak hanya untuk Kalbar, tapi juga mewarnai belantika dakwah nasional di mana UAS dan Yusuf Mansur pun kerap bolak-balik ke Munzalan.

Saya dibawa terbang ketemu Muhammad Aksa dalam rangka wawancara bagaimana mengelola mesjid menjadi makmur seperti Sunda Kelapa di mana dana abadinya sampai Rp 6 miliar! Di Mesjid Sunda Kelapa Puang Aksa membangun ruang pertemuan, penginapan setara hotel dan rumah sakit ummat. Dana besar mengalir ke baitul maal Mesjid Sunda Kelapa. Itu rahasianya. Baitullah dan Baitul Maal. Remajanya aktif sejak mengaji sampai ilmu bela diri….Demi mendengar cerita Tokya saya tak sanggup tidur sampai jam 01.30 non stop bercerita sejak jeda Isya dari Mesjid Tjut Meutia.

Sepanjang Isya pukul 19.30 hingga pukul 01.30 maka genap 6 jam kami bertukar cerita-cerita menarik. Saya simpulkan bahwa keikhlasan dalam berbuat haruslah diutamakan demi mencari ridho Allah SWT. Sebab dalam shaf yang lurus dan rapi ada saja oknum yang tega “menikam” dari belakang. Tikaman-tikaman ini seram. Sampai-sampai beredar surat kaleng yang lempung. Sekali remas–raup.

Baca Juga:  Diar Andiani dan Hidup-Mati untuk AFS--A Beautiful Soul--Catatan In Memoriam

Saya hanya berdehem bahwa musuh utama umat Islam bukanlah orang-orang kafir, tetapi catat: Orang MUNAFIK! MUNAFIQUN. Bisa cek saja di berbagai organisasi dan kelembagaan kita. Oleh karena Nabi yang mengutarakan hal itu maka sepanjang 6 jam berbincang bukanlah hal yang aneh bin ajaib. Kita sekali lagi diminta luruskan shaf dan berbuat bajik secara ikhlas LILLAH. Bukan Lil Pujian dan Lil Rupiah!
Saya tertidur pulas ketika secara tidak sadar melihat Nur Hasan sudah bangun Tahajjud pukul 03.00. “Tak sabar menunggu besok,” katanya. Subhanallah, dalam hati saya menilai betapa berkobar-kobar semangat dakwahnya Tokya.

*

Tokya menikah di bulan suci Ramadhan kala usianya masih belia, 22 tahun. Dia diakad-nikahkan oleh Imam Besar Mesjid Raya Mujahidin KH Abdur Rahim Ja’far dengan saksi HA Mawardi Dja’far. Tokya menikahi gadis kelahiran Pecinan Setia Budi irisan Jl Gajahmada dan Tanjungpura Kota Pontianak namun dibesarkan di Parit Baru–sejak bayi diangkat menjadi muslimah–alumni Tsanawiyah Negeri II dan SMA Santun Untan. Kini Tokya sudah punya empat anak dan 1 cucu. “China itu jangan dimusuhi, tapi dinikahi,” celoteh ringan Tokya. Banyak lingkungan Pecinan yang bergaul dengan Tokya dan memilih berpindah dari agama bumi ke agama langit. Bersyahadat.

Menjelang masa ulang tahunnya yang ke-51 dia kembali dapat “undangan” mengelola Tower Mujahidin sebagai bagian dari pengembangan wakaf Mesjid Raya Mujahidin yang diinisiasinya atas amanah inisiator Mujahidin HA Mawardi Dja’far. Ada tiga wasiat HA Mawardi Dja’far pertama adalah Kemakmuran Ibadah dan Kemasjidan.

Kedua galakkan dakwah di kalangan pemuda-remaja. Ketiga adalah bangun mercusuar komunikasi dan informasi. Orientasi HA Mawardi Dja’far adalah wakaf produktif. Mesjid yang produktif dengan kemakmuran mesjid. Mesjid penuh dengan pemuda-remaja. Dan mesjid yang unggul dalam komunikasi dan informasi dakwah.
“Ketiganya telah mewujud di Mujahidin. Pertama kemakmurannya telah menyebar di berbagai program dan lembaga. Pemuda dan remajanya tergarap dengan baik. Ketiga, saat ini saya diundang masuk dalam Badan Pengelola ‘Wakaf’ Mujahidin Tower,” kata Tokya. Di Mujahidin Tower sudah eksis Radio dan TV Mujahidin.

Di masa usianya setengah abad plus 1 tahun, Tokya saya lihat mulai aktif kembali di Mesjid Raya Mujahidin. Dia memboyong filantropis dakwah dengan masuknya 20.000 mushaf Quran. Yang jika biaya cetaknya Rp 100.000 per mushaf setaralah nilainya dengan Rp 2 miliar.

Pemuda-remaja mesjid pun bagaikan dapat darah segar baru. Mereka menggeliat dengan baju seragam dan kantor lantai dasar Mujahidin Tower yang terus didandani menjadi rapi dan bersih–serta lebih menarik lagi dalam pandangan dakwah level lokal, nasional dan internasional.

“Munzalan sebenarya sudah sangat sibuk, tapi hati Tokya tetap ada di Mujahidin,” ungkap salah satu dari empat imam Munzalan, CEO Mesjid Billionaire–Mesjid Entreprise Beni Sulastyo, SE.

“Kami kasih pandangan agar Tokya fokus saja di Munzalan, Mujahidin itu sudahlah lepaskan. Tapi cinta Tokya ada di Mujahidin. Kalau soal cinta sudah lain cerita,” kata Kyai Kabir namun masih muda belia, KH Lukmanul Hakim.

Saya sebagai adik juga kasih catatan: Selamat Ulang Tahun ke-51 Tokya. 7 Februari 2021-1970. Bawalah aura kemajuan Mesjid Kapal Munzalan ke ibu kandungnya Mesjid Raya Mujahidin. Jika sudah kelar, lepaskan kepada generasi muda baru dengan spirit baru–kembali fokus di Munzalan si Mesjid Kapal–yang memang dinahkodai oleh Nabi Nuh Alaihis Salam Tuwassalam. Antara Nur dan Nuh memang beti: Beda-beda tipis 🙂
Selamat ulang tahun setengah abad plus 1 Tokya. Bahtera terapung mengarungi laut dengan sesekali datang badai dan prahara. Sejarah mencatat hal-hal seperti itu sebagai sunnatullah. Biasa saja adanya. Hanya ganti setting waktu dan personalnya. Inti hati manusia tetap sama. Ada kawan dan lawan. Ada pahlawan dan makan paha lawan.

Insya Allah dengan rumus MSQ–Mesjid-Subuh-Quran dan Ikhlas LILLAH–step by step–kemajuan demi kemajuan insya Allah akan terus berkemajuan. Amiin YRA. Sekali layar terkembang-pantang surut mundur ke belakang. *

Written by Nur Iskandar

Hobi menulis tumbuh amat subur ketika masuk Universitas Tanjungpura. Sejak 1992-1999 terlibat aktif di pers kampus. Di masa ini pula sempat mengenyam amanah sebagai Ketua Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi) HMI Cabang Pontianak, Wapimred Tabloid Mahasiswa Mimbar Untan dan Presidium Wilayah Kalimantan PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). Karir di bidang jurnalistik dimulai di Radio Volare (1997-2001), Harian Equator (1999-2006), Harian Borneo Tribune dan hingga sekarang di teraju.id.

IMG 20210206 WA0024

Nipah Ayah Serumpun Wasilah

IMG 20210207 WA0061

Islam Bertumbuh di China–10.000 Jemaah untuk Mesjid Shenzen