Edukasi

Sebuah Parabel: Aibrahaim

Sebuah Parabel: Aibrahaim

Oleh : Nings S. Lumbantoruan

Di suatu taman, anak lelaki melihat seorang bapak tua duduk di bawah pohon. Tampaknya bapak itu sedang menangis. Dari bajunya yang bagus, dia bukan orang melarat. Anak itu mendekatinya dan bertanya, “Apa gerangan yang membuatmu gusar, Pak?”

Sejenak si bapak ragu untuk menjawab. Tetapi akhirnya dia merasa ingin curhat pada anak itu. Dia menggeleng dan tersenyum tulus. “Tidak apa-apa, Nak. Bapak hanya sedih. Bapak punya dua orang anak lelaki, dan sekarang keturunan mereka saling membenci satu sama lain.”

Anak lelaki itu mendengarkan panjang lebar cerita si bapak. Dia merasa punya solusi. “Ini, saya kasi Bapak hadiah.” Dia menjulurkan setangkai permen berbungkus warna biru.

Bapak itu menerima dan mengucapkan terimakasih. Air mata si bapak berhenti melihat ketulusan anak kecil itu. Setangkai permen bisa menyelesaikan solusi.

Setelah si anak merasa tugasnya sudah selesai, dia pergi ke arah kedua orangtuanya duduk di bangku taman yang lain. Tidak lama, anak itu berbalik lagi, dia ingat nasehat ibu gurunya di kelas. “Tak kenal maka tak sayang.”