Wawancara adalah salah satu metode penting dalam produk pers. Apalagi kepada public figur.
Pria bernama lengkap Sutarmidji Bin HM Tahir dikenal luas sebagai walikota yang paling banyak memberikan perubahan landscape Kota Pontianak. 10 tahun kota ini dipimpinnya, sudah setara kota-kota besar di Indonesia. Sebuah prestasi ciamik. Bukan abal-abal dan bukan bim salabim melainkan dengan talenta leadership kelas dewa.
Beliau public figur yang kerap saya wawancarai. Bahkan sebelum menjadi walikota, yakni anggota DPRD Kota Pontianak pasca reformasi. Ulasannya kritis. Tajam. Berbasis angka, data, fakta. Maka wajah mantan dosen Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura ini rajin naik ke halaman-halaman koran. Koran arus utama saat itu adalah Jawa Pos News Network. Ada Akcaya Pontianak Post. Kapuas Post. Equator.
Tempat saya bekerja di Harian Equator.
Oleh karenanya wajar dia aklamasi menjadi Gubernur Kalbar periode 2019-2024. Meneruskan Drs. Cornelis, MH. Beliau berpasangan dengan Bupati Mempawah dua periode, Golkar, Ria Norsan.
Tak terhitung banyak saya mewawancarai tokoh pembawa perubahan dengan identitas Mr Clean ini. Saking banyaknya saya rangkum ke dalam biografi Sutarmidji Bukan Pemimpin Biasa (2013) dan Bang Midji Membangun Kalbar Baru (2023).
***
Tadi siang kami berdua duduk wicara. Bincang-bincang. Macam silaturahmi keluarga.Bersembang.
Seperti biasa, beliau kalau berjumpa banyak kisah-kisah lucu yang membuat tawa membuncah. Lamaaa. Satu jam!
Mungkin ini rahasia beliau awet muda. “Bapak lebih tampak muda rupanya,” kata saya sambil beruluk tangan.
“Ini dah yang ke-10 orang cakap begini,” sambarnya. Sebelumnya didapat di Temajuk bersama Nasdem ketika melepas anak-anak penyu ke pantai habitatnya belum lama ini.
Beliau memang hanya sesekali keluar rumah. Istilahnya puasa politik.
Keasyikannya sekarang adalah meresapi makna kehidupan melalui cucu-cucunya yang sedang lucu-lucunya.
Orang bilang, sayang kakek kepada cucu melebihi anak sendiri. Tak terkecuali “Bang Midji”.
***

Kekinian berjumpa Bang Midji sebagai insan pers tak afdhol jika tak bertanya soal dua tersangka kasus dana hibah Mujahidin. Hibah 2020-2022 yang diberikannya selaku gubernur.
Tak ayal lagi, 1 jam beliau urut dari awal sampai akhir. Sampai kepada dana-dana hibah yang jumlahnya ratusan, bahkan ribuan, diminta periksa semua, apakah ada aliran dana masuk ke koceknya. “Jangan hanya hibah Mujahidin, juga Matakin, Walubi, GKE, Katedral. Semua agama dan ormas saya berikan hibah.”
Saya menyimak dengan seksama. Dan berjanji akan membuat liputan konfrehensif agar publik tahu benar-benar tahu, bukan katanya-katanya.
Saya akan mulai dari nol. Historis. Dari A to Z. Bersambung tentunya.
Selain via berita atau artikel juga podcast. Tentu dengan desain infografis agar mudah dicerna dan dibandingkan. Misalnya Gedung SMA dapat hibah 22M hasilnya sebesar itu. 3 tingkat. Plus tingkat keempat sarana olahraga. Bandingkan dengan Gedung Kejaksaan Negeri. Hasil hibah Pemkot senilai 22M.
Sebagai jurnalis saya kenal secara kelembagaan di Mesjid Raya Mujahidin. Saya alumni SMP Mujahidin (1986-1989). Saya ikuti metamorfosis halaman kosong 1978 ketika diresmikan Presiden Soeharto.
Saya tahu hanya ada 1 Yayasan. Yakni Yayasan Mujahidin. Tidak pernah ada dua yayasan, yakni Yayasan Perguruan atau Pendidikan Mujahidin. Oleh karena itu data rilis salah besar. Media mengaplikasi rilis juga salah akbar. Lebih besar bin gede laiknya gempa bumi disusul tsunami. Tak ada cross check. Check and recheck. Balancing report.
Bahwa berita satu arah walaupun dari instansi resmi bukanlah pemegang otoritas kebenaran. Apalagi selaku alumni Mujahidin, aktif di Remaja Masjid Mujahidin sejak SMP sampai kini memonitoring RM dari sisi pers, saya haus berkontribusi membawa kebenaran sesuai cara kerja pers yang mengedepankan fakta. The fact is secret. Wilayah gue bingits ini.
***
Saya sudah mulai wawancara Bang Midji. Saya akan wawancarai banyak pihak utama. Termasuk laporan awalnya dari mana? Apa motivasinya? Dan seterusnya.
Selain produk pers sekalian jadikan buku. Pelajaran sejarah soal hibah. Kait mengait politik yang kejam. Hitam. Kelam. Sampai merasuk ke Mesjid Negara. Mesjid Raya Mujahidin. Mesjid para Pedjoeang. Jihad FII Sabilillah.
Adapun Qur’an menyatakan, Alhaqqu min robbika. Fala takunanna minal mumtarin.
Kebenaran itu datangnya dari Allah. Tuhan YMK. Oleh karena itu jangan kamu ragu-ragu.
Metode pers metode jurnalistik. Dilindungi UU Pers dan Kode Etik. Bismillah.
Kita tahu kebenaran bisa diperjualbelikan di republik ini. Makanya kini terkenal jargon “No viral no justice”…
Media profesional adalah yang bisa menyibak tabir melalui investigasi. Investigative reporting apalagi disajikan dengan jurnalis sastrawi. Semoga kerrrren cadas sehingga edukatif, enak dibaca dan perlu, serta hal-hal lucu diramu dengan seru. *
