Layaknya prajurit Kopassus, Bang Noh merayap masuk. Tiba-tiba kepalanya muncul dari bawah papan. Aku menyambut tas dan buku-bukunya. Lalu, bagai bayangan siluman, ia lenyap ke kamar tanpa tirai bergoyang.
Bapak, yang latar belakangnya guru agama alumni PGA, dikenal sangat lihai. Walau pura-pura tak tahu, semua gerak-gerik anak-anaknya tercatat. Katanya, waktu muda pernah berguru silat dan punya banyak jimat—yang kemudian dibakar karena dianggap syirik.
Ritual maghrib di rumah kami sudah seperti protap militer. “Nor… Kandar… maghreb!” seru bapak setengah berteriak. Kami semua paham tugas masing-masing: mandi cepat, ganti piyama, siap azan dan qomat. Bapak imam. Kami semua makmum.
Sejadah pun punya cerita. Aku punya yang paling tipis dan kuning, warisan dari bapak. Kak Ita yang perempuan dapat yang lembut dan merah manggis. Bang Noh? Sejadah hijau spesial, sebab dia anak sulung.
Doa setelah salat seperti sandiwara kecil. Gerakan tangan bapak yang tak menoleh, menjadi isyarat: Bang Noh harus mulai baca doa pembuka. Aku penutup.
Setelah salat, semua kembali ke rutinitas: makan malam bersama, membentang tikar, cuci piring, menyimpan ke lemari. Lalu rumah hening. Hening yang menyeramkan. Biasanya, kalau pagi ada kejadian yang bikin bapak marah, malamnya kami semua bisa kena getahnya.
Lalu bapak bertanya, “Oi, ade nengok pendeng aku ndak?” Kami semua saling menatap. Iya. Ini isyarat buruk. Bang Noh pun tahu. Dia sudah siap dengan training hijau, kaus kaki panjang, dan wajah penuh strategi.
