Dengan semangat, kuturuni tempat tidur. Mengenakan baju Megaloman, kuambil tali sampan Pak Usu. Dengan pengayuh Wak Bayo, aku mendayung cepat. Melewati dermaga Wahdah, rumah Wak Abu, rumah Wak Majed, rumah Wak Bidding, Wak Leddang, Tok Itik…
Sampai ke rumah Mak Ento. Tali kutambat. Sabun cap Sunlight, sabut kelapa, dan sabun B-29 masih di tangga mandi. Aku naik papan belian, sambil bersiul penuh semangat.
Di atas, Pak Usu mengikat keladi sayur. “Pak Usu, sampan dah kamek balekkan yeh. Terimak kaseh…”
Beliau menoleh, “Iyelah Kandar…Tali dah tambat kuat-kuatkeh?” Aku jawab, “Udaaaaa…”
Aku berlari mengejar matahari sore. Aku harus mandi. Harus siap qomat. Harus gelar tikar. Harus menjadi bagian dari keluarga kecil yang setiap malam penuh ritual, penuh cinta, dan pelajaran hidup yang tak pernah usang.
Aku anak Sungai Raye Dalam. Aku adik Bang Noh. Aku murid dari rumah kecil penuh rahasia dan rotan. Tapi dari rumah itulah aku belajar jadi manusia.
