“Ape salah kao?” tanya bapak. “Tau Pak.” lirih jawabnya. Semua seperti sidang terbuka. Dari siapa, ke mana, berapa habisnya uang—semua ditanya. Ternyata uang SPP dua bulan habis untuk “campak gelang” di PRP. Hadiah: lemon sebotol dan Bimoli sekilo. Waktu itu kami semua senang. Ternyata itu hasil penyalahgunaan anggaran.
Plak-plak-plak. Rotan melayang. Aku pikir aku bebas. Tapi prinsip bapak: satu salah, semua kena. Kak Ita yang tidak tahu apa-apa pun kena.
Bang Noh yang aktor ulung, bersandiwara. Sebelum rotan menyentuh kulitnya, ia sudah menjerit-jerit. Aku hampir tertawa, tapi menahan. Namun bapak tahu. “Tadak nanges kau yeh? Malah ketawak?” Katanya sambil ikut nyengir.
Rotan, pendeng, dan cubitan mengalir bagai ritual keluarga. Tapi kami tahu, itu tanda sayang. Bapak selalu memukul setelah perut kami kenyang. Tidak pernah sebelum makan. Sebab katanya, kalaupun kami ngambek, perut sudah diisi. Tak ada risiko pingsan karena lapar.
Usai semua, kami masuk kamar. Di sanalah aku tahu, Bang Noh memang aktor tulen. Ia sudah siap. Training panjang, baju panjang, kaus kaki bola semua jadi pelindung. Bahkan celana pendek dan dalam pun masih utuh. Dia pura-pura saja. Sandiwara Radio Tutur Tinular hidup di rumah kami.
Pelajaran malam itu sangat berharga: taktik dan strategi penting sebelum sebuah peristiwa!
Aku terbangun, menatap langit dari kasur besi. Awan putih berarak. Aku harus lulus ujian. Bapak guru di SMPN Teladan. Aku sudah janji pada Pak Sam. Aku ada di buku hitam.
