Presiden Jokowi geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir, mengapa inflasi dan indikator ekonomi makro baik-baik saja tapi daya beli masyarakat menurun. Rapat terbatas digelar untuk membahas fenomena yang masih menjadi misteri bagi Bappenas ini.
Dahlan Iskan dengan ciamik menganalogikan fenomena ini sebagai fenomena ayam petelur yang stres lalu enggan bertelur.
Menurut Dahlan, hal ini akibat banyaknya kejadian yang ”anti-ekonomi”. Pengusaha tidak tenang. Saat harga daging naik, peternak besar diancam. Harga beras naik, pedagang beras dirazia. Diancam dengan tuduhan yang anti-ekonomi. Lalu, muncul berita sekitar pelaporan penggunaan kartu kredit. Disusul lagi berita tentang pelaporan saldo di atas Rp 200 juta. Yang kemudian diralat menjadi di atas Rp 1 miliar. Dan seterusnya, dan seterusnya.
Alhasil, para pengusaha lebih memilih menyimpan dan berinvestasi di properti ketimbang memutarkan uangnya. Mereka enggan hartanya “dikriminalisasi”. Tax amnesty yang diniatkan memburu dana-dana segar dari luar, justru menimbulkan ketakutan bagi pelaku usaha dalam negeri. Bisnis mereka seakan selalu dimata-matai. Bayangkan, status kocak Raditya Dika tentang mobil Raffi Ahmad ditanggapi serius oleh Ditjen Pajak lewat tweet-nya.
Meski demikian, pelemahan ekonomi ini bukannya tidak mendapat bantahan. Rhenald Kasali coba menjelaskan fenomena ini melalui buku dan berbagai tulisannya di media daring.
