Karena apa? Yunani juga misalnya adalah negara yang terdiri dari pulau-pulau. Cukup banyak juga pulaunya walaupun tak sebanyak Indonesia. Toh, ketika orang-orang akan mengunjungi Pulau Santorini atau Mykonos atau Crete misalnya, yang disebut pertama adalah nama negaranya dulu: Greece, dan baru kemudian nama tempat tujuannya.

Demikian pula jika orang hendak mengunjungi Bangkok atau pantai Pattaya, toh yang disebut dulu oleh si calon pelancong adalah nama Thailand, baru kemudian tempat tujuannya.

Para pelancong (atau pun umumnya para mahasiswa saya sendiri di Jerman) langsung ‘lempeng’ alias lurus saja menyebut nama BALI sebagai tempat tujuan, tidak menyebut nama INDONESIA dulu.

Dunia sudah terlanjur sangat mencintai Bali. Bahkan ketika mereka belum membaca atau mempelajari apa pun tentang masyarakat dan adat Bali. Hanya dari mendengar namanya saja, sudah langsung pikiran mereka dipenuhi alam Bali sebagai penjelmaan alam syurga impian yang sangat didambakan, sebuah Pulau Dewata yang sangat spiritual dibarengi tingkat toleransinya terhadap kepercayaan apa pun yang begitu tinggi. Sebuah pulau yang dirasakan tidak mengancam bagi kenyamanan para pelancong.

Bersyukurlah Republik Indonesia memiliki Bali. Dan seharusnya memang Indonesia berterima kasih kepada Bali. Kepercayaan warga dunia terhadap Bali begitu tingginya. Oleh umat dunia, bumi Indonesia seringnya dikenali melalui Bali terlebih dahulu. Bukan sebaliknya. Dan ini adalah kenyataan sejak sebelum dan setelah Republik Indonesia berdiri.