Saya pahami Mahfud MD justru dari buku-bukunya tentang hukum dan demokrasi. Namun jauh lebih banyak membaca berita tentang Mahfud MD dari hasil kerja para kuli tinta. Dari diskusi kampus, maupun diskusi awak media. Keberpihakannya kepada kebenaran sungguh tidak diragukan. Kalau ada yang ragu silahkan cek dan cross check dengan mata kepala sendiri. Silahkan. Saya hanya berpendapat, bukan monopoli kebenaran sesaat. Gaya Mahfud yang ceplas-ceplos juga hadir, tak jarang mengkritisi pemerintah. Dia kata, ingin memperbaikinya dari dalam. Sementara mahasiswa dengan idealismenya, maupun kritikus pemerintah merupakan outsider. Pemberi masukan dan solusi alternatif dari pihak luar. Bukankah solusi dari luar perlu, dari dalam juga iya?

Sebagai seorang yang punya hati dan pikiran sederhana, tetapi cerdas, saya yakin Pak Mahfud dengan paradigma sosiologi hukum warisan Prof Satjipto Rahardjo (Universitas Diponegoro-Semarang-Jawa Tengah) pasti paham apa yang sedang terjadi di Indonesia terkini. Gelombang demo menolak UU Cipta Kerja karena “jalur jalan” yang ditempuh bagi dominan publik Indonesia menilainya adalah “gelap”. Bahkan ada yang sarkastik menyebutnya seperti “maling” kerja di kegelapan dan sembunyi-sembunyi. Sehingga banyak yang menilai UU CK cacat prosedur formal yang biasanya banyak sekali diseminasi. Lepas dari kontroversi isi dan jumlah isi yang terus diperdebatkan, jika situasi massif salah penanganan bisa-bisa menjadi bola api liar dan kontra produktif bagi nawaitu mengesahkan UU Cipta Lapangan Kerja–disingkat para kritikus “Cilaka”. Bukan iklim surga-malah angin neraka.