Dan ini yang ketiga. Pertengahan Juli 2019. Notifikasi chat WA masuk di hape saya. Ada flyer dari sahabat rasa saudara, Pay Jarot Sujarwo. Tentang Islamic Trip and Travel Book Project, Kuala Lumpur-Malaka, Syarat: Muslim, lelaki, peserta perempuan wajib bersama mahrom/suami, tidak manja saat travelling, penyuka sejarah Islam, rindu kejayaan Islam. Kita akan ngetrip sekaligus menulis Islamic Travel Book. Don’t miss it! Demikian isinya.

“Siapa tau Bang Herma bisa bantu forward,” sambung Pay.

“Siap. Saya share ya ke beberapa grup ya Pay. Tertarik juga ikutan nih,” balas saya, antusias.

“Yok Bang yok,” dibalas cepat oleh Pay. “Ajak Bang Nur Is juga ya Bang,” sambungnya.

Nur Iskandar nama lengkapnya, adalah jurnalis dan penulis ternama di Kalbar, sahabat kami juga. Dari Pay dan Nur Iskandar ini saya cukup banyak belajar tentang dunia kepenulisan. Saya penikmat karya-karya mereka berdua.

“Bisa jadi proyek buku bersama nih ya?”

“Betul Bang. Ini akan jadi target trip ini.”

Agustus 2019. Transfer uang pendaftaran sudah. Tiket pesawat Pontianak-Kuala Lumpur dengan jadwal dan penerbangan yang sama dengan Pay juga sudah dibooking. Berarti sudah positif saya ikut dalam trip ini kan ya? Rupanya tidak juga. Jadwal kerja sebagai konsultan, dunia kerja baru yang saya geluti setelah tidak lagi bekerja di WWF, ternyata cukup padat. Bahkan ada jadwal laporan akhir yang harus saya selesaikan dan dikirimkan ke lembaga yang mengontrak saya persis bersamaan dengan trip ini, nyaris membatalkan keberangkatan saya.