Sebagai jurnalis, menurut Bill Kovack–penulis Sembilan Elemen Jurnalisme–tokoh Narrative Reporting–buka pintu 1×24 jam adalah tabiat demokratis. Jurnalis menjadi corong aspirasi dan mimpi masyarakat. Oleh karena didikan Bill Kovack itulah saya selalu menerima ajakan pertemanan dalam satu grup. Tidak pernah menolak, sekeras apapun, sepahit apapun. Termasuk soal 212 dan Ahok tempo hari, hingga kini soal FPI. Saya sudah terbiasa di dapur redaksi selama 25 tahun terakhir membaca naskah aliran keras sampai berdarah-darah sekalipun. GPP. Esensinya yang saya cari dan kemudian diberitakan sebagai muara demokrasi. Baru kali ini saya membuat grup dan saya pula yang membubarkannya. Maka kesannya teramat dalam. Walaupun tentu saja sudah ada aba-aba dan tanda-tanda sebelumnya. Saya berharap itu adalah cara yang baik dan demokratis.
Yang saya tak habis pikir adalah saya diundang dan saya dikeluarkan. Tak ada tanda-tanda. Tak ada aba-aba. Tetiba saja grup bubar. Aneh tapi nyata. Inilah pentingnya tulisan ini. Bahwa kita di dunia maya juga perlu etika. Bukan apa-apa, menjaga asa, rasa dan karsa. Agar tema dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat tetap membawa manfaat. Tak ada huru-hara dan syakwasangka.
Domain WAG juga adalah wakil rakyat. Dalam grup itu aspirasi dicuitkan. Ia adalah realitas. Bagi saya, jurnalis, WAG adalah tampilan sebagian kecil rakyat yang harus didengar. Walaupun “silent reader”. Meski ada pola untuk bisa membaca semuanya. Ambil yang penting-penting, namun tetap mengikuti rentak gendang kehidupan. Jika muatannya teralu banyak dan memberatkan memori, mau tak mau, suka tak suka, dihapus.
