Ketika aktif di Muhammadiyah, Jalaluddin mengikuti gerakan-gerakan “yang saya sebut Islam-siasi, yaitu Islam politik, di mana saya ingin mendirikan syariat Islam di negeri ini”.
Namun demikian, Jalaluddin muda mengaku berulangkali kecewa, karena “di berbagai negara Islam, tidak ada yang berhasil mendirikan Syariat Islam”.
Di tengah situasi seperti itulah, Jalaluddin mengaku takjub ketika terjadi peristiwa penting di Iran pada 1979, yaitu runtuhnya rezim monarki otoriter Raja Shah Pahlavi oleh apa yang disebut belakangan sebagai Revolusi Islam Iran.
“Tiba-tiba saya melihat para ulama di Iran menang. Kok bisa ulama Iran bisa memenangkan sebuah pertarungan poltik dan bisa mendirikan negara Islam? Wah itu menginspirasi saya yang saat itu sudah putus asa,” jelasnya.
Dalam perjalanannya, dia kemudian berangkat ke Iran, persisnya ke kota Qum, untuk belajar tasawuf. “Saya tidak belajar Syiah, saya belajar tasawuf di Qum.”
“Dan ternyata,” ungkapnya dengan mata berbinar, “di kalangan orang-orang Persia, saya menemukan khazanah tasawuf yang sangat kaya. Jadi saya mulailah tertarik tasawuf”.
Mengapa menjadi Syiah
Kembali dari Iran, Jalaluddin — yang di masa mudanya sudah membaca karya-karya filosof Baruch Spinoza (1632-1677) dan Friedrich Nietzsche (1844–1900) di perpustakaan negeri peninggalan Belanda — mendirikan yayasan tasawuf.
“Dalam tasawuf, seluruh agama bertemu, bukan hanya seluruh mazhab Islam,” katanya.
Menurutnya, dalam ranah tawasuf atau mistisisme, semua penganut agama akan mengatakan ‘kayaknya kita saling mengenal, kayaknya kita adalah bagian dari keluarga besar, yang menegakkan agama atas dasar cinta’.
Kepada saya, Jalaluddin menekankan bahwa “saya tidak bermaksud mengajarkan Syiah dalam tasawuf, karena menurut saya, tasawuf itulah yang mempersatukan Sunni dan Syiah,” tegasnya.
