Penilaian saya itu dilatari dengan kebiasaan menghadirkan tulisan fakta dengan opini. Kalau fakta, kita bisa uraikan panjang lebar soal objek fakta yang hendak dihadirkan agar pembaca terang benderang paham. Ini Smit menulis pendek. Hanya 1 kalimat. Dan tidak fair, Prof Anhar “menyengkang” Sultan Hamid II Alkadrie Pahlawan Nasional yang diajukan masyarakat Kalbar hanya dengan bukti kalimat ini. Apalagi sejarawan Dr Muhammad Iskandar dalam webinar bersama AGSI menyatakan Hamid tidak terlibat APRA. Termasuk Negara Pasundan.
Sejarah harus ditulis ulang. Begitu kata Dr Iskandar. Begitupula kata sejarawan Rousdy Husein. Soal Hamid bisa ditelaah dari risalah meja perundingan. Lewat catatan meja perundingan.
Penilaian saya bahwa Smit beropini, lihat pengantar penerbit. Bahwa tulisan Smit dibuat dari sudut “orang seberang”. Orang Belanda. Sementara yayasan menulis dari sudut pandang putra bumi khaTULIStiwa.

Setelah membaca langsung buku Smit, baru saya yakin Prof Anhar tersesat pikir. Beliau juga tersesat perasaan karena paman dan saudaranya adalah korban Westerling di Sulsel.
Melihat ilmu psikologi, ada tanda tanda emosional dari Prof Anhar. Ia mungkin sakit traumatis secara mendalam. Perlu Presiden meninjau keberadaannya sebagai pakar sejarah apalagi wakil dewan gelar saat ini. Khususnya untuk menilai kepahlawanan Sultan Hamid II Alkadrie sebaiknya Beliau diistirahatkan. Dipakai lagi untuk tokoh calon pahlawan yang tidak sezaman dengan Westerling.
