Oleh: Yusriadi

Hari ini, Kamis (14/6) penghujung Ramadan. Saya dan keluarga berada di kampung di hulu Sungai Sambas. Jarak dari Pontianak lumayan jauh. Kemarin, kami berangkat dari Pontianak pukul 09-an, tiba di rumah keluarga di kampung pukul 17.30-an. 8 jam perjalanan darat.

Tahun ini kami memilih lebaran di hulu Sambas karena kampung ini lebih dekat dibandingkan kampung kelahiran saya di Kapuas Hulu. Pergi ke tempat yang dekat lebih ringkas persiapannya dibandingkan ke tempat yang jauh –persiapan lahir batin.

Ketika tiba di kampung yang umumnya orang Jawa dan Sunda, suasana lebaran sangat terasa. Di rumah, sudah berkumpul banyak orang. Keluarga dari sebelah istri sudah di rumah lebih dahulu. Rumah jadi ramai.

Yang menarik, ibu mertua, bu lek dan adik ipar, sedang memanggang kue lapis. Kue khas Melayu Sambas. Jadi, sekarang kue ini juga bergerak lintas etnik. Kayaknya kue ini menjadi kue penting untuk suguhan kepada tamu yang nanti datang berlebaran.

Saya mendengar kue lapis sudah lumayan lama menjadi kue lebaran keluarga di sini. Mereka belajar membuatnya dari tetangga dan keluarga lain, dan tetangga atau keluarga itu sebelumnya belajar dari orang Melayu. Apakah rasanya sama dengan rasa original Melayu, entahlah. Yang penting namanya, komposisi bahan dan cara memasaknya, sama: kue lapis yang dimasak berlapis-lapis.

Selain kue itu, tadi, bapak mertua dan biras saya, menebang pohon sawit, mengambil bagian dalam yang muda. Umbut namanya. Lebaran ini keluarga menyediakan menu sayur umbut sawit sebagai menu tambahan. Maaf, ini usul saya yang didukung istri dan diiyakan mertua.