Bagi mereka, kehadiran sayur ini di hari besar, mungkin agak aneh. Belum pernah. Biasanya hanya ayam dan sayur kentang dan lainnya. Umbut sudah “pandai” mereka sayur kala hari-hari biasa, secara kebetulan menebang pohon sawit.

Tetapi bagi saya, menu ini sudah biasa dijumpai pada acara hari dan makan besar begini. Di kampung, di Kapuas Hulu, umbut selalu ada. Jenisnya, ransa, kadang… kelapa dan sawit. ketika makan bersama setelah salat Ied, menu sayur umbut pasti ada. Inilah menu utama, memanfaatkan tanaman lokal.

Soal bumbu, ada emak biras saya yang kebetulan orang Kapuas Hulu. sehingga cara memasak umbut benar-benar cara Ulu.

Sekarang keluarga Jawa sedang belajar memanfaatkan tanaman lokal, sawit yang ditanam merata-rata. Sawit jantan atau sawit yang tidak mau berbuah bisa dimanfaatkan umbutnya untuk menu utama di acara makan besar.

Saya kira itulah bagian dari proses mereka menjadi orang Kalimantan, selain upaya-upaya yang lain.

Memanfaatkanapa yang ada di sekitar mereka untuk kehidupan mereka, dan belajar dari orang lain yang bertetangga atau yang ada di samping mereka. Inilah prinsip, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Selamat hari raya Idulfitri, maaf lahir dan batin. (*)