in

Kemeriahan Lebaran itu ada di Sini

Oleh: Yusriadi

Besok kita akan lebaran. Lebaran yang katanya dalam suasana keprihatinan bersama di tengah pandemi corona. Di tengah situasi yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.

Ya, katanya, corona telah membatasi kita semua. Corona membatasi kita keluar rumah. Corona membatasi kita berkumpul. Ada social distancing yang harus dipatuhi.
Corona telah merisaukan banyak orang. Pandemi itu membuat banyak orang tidak nyaman. Lihatlah keluhan muncul di sana-sini. Ruang media sosial menjadi ember untuk menampung semua keluh kesah itu. Sekaligus menampung dua narasi yang pro-kontra aneka hal terkait corona. Tak kurang jumlah kata manis dan kasar terungkap.

Di media sosial kita membaca keluhan orang yang kehilangan pekerjaan karena kegiatan perusahaan dan layanan tidak bisa diberikan. Orang-orang mengeluhkan pendapatan yang hilang. Mereka juga mengeluhkan kebebasan yang direnggut.
Di media kita dibuat bergidik soal bahaya virus ini pada manusia. Kematian telah mencapai ratusan ribu jiwa di seluruh dunia.

Entahlah…

Tetapi, sejauh ini, hingga tulisan ini diselesaikan malam ini, situasi yang dibicarakan di media sosial seperti tak nyambung dengan dunia nyata. Media sosial menjadi imajinasi.

Di dunia nyata, di luar hiruk pikuk media sosial, suasana pasar sehari dua ini tetap ramai. Di bagian tertentu terlihat padat berdesak. Orang-orang tetap berbondong memborong kebutuhan perut dan fisik.

Uang yang dikeluhkan susah diperoleh, ternyata.. banyak juga. Barang yang dikhawatirkan langka dan naik, tetap diburu dan disedia.

Masjid yang disebut sepi tertutup, mungkin hanya beberapa saja nun di sana. Di sejumlah masjid kegiataan berjamaah tetap diselenggarakan. Jamaah berbilang orang tetap menyerikan suasana, terutama di malam hari.

Takbir dan tahmid menggema di ruang udara. Bersahut-sahutan antara satu masjid dengan masjid yang lain. Nada kesedihan tak tertangkap oleh telinga.

Pada malam ini, langit tetap memperlihatkan percikan kembang api. Gelegar petasan masih meletup di sana sini. Sekali lagi uang yang terbatas tetap tersedia untuk “bakar-bakaran” ‘bende’ penyerta pesta.

Semuanya nyaris sama. Semuanya nyaris tak mencerminkan suasana yang dibayangkan soal keprihatinan karena corona.

Lalu…

Kita akhirnya harus menyadari bahwa gaduh di media sosial soal corona mungkin cukup sampai di sini saja. Debat soal pasar dan masjid yang ramai, jelas tak banyak gunanya. Biarlah itu menjadi imajinasi.

Kini, kita fokus pada perayaan yang di depan mata. Pada kegiatan merayakan Idulfitri, pada takbir dan tahmid, serta pada kegiatan silaturrahmi.
Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. (*)

Berbagi itu indah:

Written by Yusriadi

Redaktur pada media online teraju.id dan dosen IAIN Pontianak. Direktur Rumah Literasi FUAD IAIN Pontianak. Lulusan Program Doktoral ATMA Universiti Kebangsaan Malaysia, pada bidang etnolinguistik.

Indonesia Bangkit: Belajar Bagaimana Hidup Bersama dengan yang Lain

Menanam Pohon Buah di Sekitar Rumah