Dan penampilan webinar kemarin itu rrrrruar biassssah! Clear seclearnya. Di mana sejarahwan Dr Muhammad Iskandar dan Dr Rousdy Husein banyak mengupas BFO yang dipimpin Hamid. “Beribu ribu dokumen tentang Sultan Hamid,” tandas Rousdy Husein. Begitupula Dr Muhammad Iskandar menyebutkan kepahlawanan Natsir yang diputuskan secara politik oleh Presiden SBY. “Tuduhan BFO itu antek antek Belanda ciptaan Van Mook dibantah Ida Anak Agung Gde Agung bahwa BFO adalah peran menjembatani antara Negara Republik Indonesia dengan Belanda. Saat diusulkan jadi Pahlawan Nasional, Ide Anak Agung Gde Agung juga diprotes warganya sendiri dengan gelar pengkhianat. Tapi beruntung Presiden teken gelar pahlawan untuknya.” Dr Muhammad Iskandar senyum lebar.
Rousdy Husein menimpali. Negara berbentuk RIS adalah kesepakatan. Semua tercatat di meja perundingan. Jadi soal unitaris federalis jika kita baca risalah perundingannya semua berbasis semangat nasionalisme kebangsaan Indonesia merdeka yang sama.
Saya puas menonton webinar sambil menebas rumput tebal di kebun tani yang saya miliki. Saya dengar seluruh uraian dengan rasa haru sangat dalam. Apalagi cuitan ratusan guru sejarah mengaku berterima kasih atas informasi ilmiah para narasumber yang rrrrruar biassssah. Dominan para guru sejarah itu sepakat bahwa Sultan Hamid II Alkadrie layak diusulkan jadi Pahlawan Nasional atas jasanya merancang lambang negara dan kepiawaiannya memimpin BFO yang menurut Prof Dr Leirissa sebagai kekuatan ketiga yang mestinya sangat signifikan bagi pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
