Terdengar sahutan di dalam rumah, di lantai bawah. Mbah Tumi, istri Mbah Sukito mempersilakan kami masuk. Lantai bawah, bagian dapur rumah ini memang lebih dekat ke tangga.
Kami naik ke rumah berlantai dua. Ada tangga luas seperti di gedung-gedung di kota, yang langsung terhubung dengan ruang tamu di lantai atas. Desain ini memang unik dan hanya milik paten Mbah Sukito di kampung ini.
Ruang tamu bercat biru. Di dinding terpasang foto keluarga. Ada salib besar dengan hiasan bunga. Sebuah tanda yang sangat jelas mengenai agama pemilik rumah. Di tengah ruangan ada meja rendah, di atasnya berbagai jenis kue dan minuman.
Mbah Sukito dan kemudian istrinya keluar dari lantai di pojok ruangan –tangga, menyambut kami dengan ramah. Kami bersalaman. Tidak ada ucapan “selamat lebaran” seperti lazimnya. Semua memang maklum.
Sudah menjadi tradisi di sini lebaran saling mengunjungi. Itu hal yang biasa dilakukan di mana-mana.
Tetapi, sebenarnya apa yang terjadi di sini cukup menarik. Orang di kampung ini saling mengunjungi, termasuk yang bukan beragama Islam.
Mbah Sukito beragama Protestan. Beliau satu di antar belasan warga di sini yang beragama Protestan. Sementara di kampung Sidodadi ini mayoritas beragama Islam.
Sebagai muslim, lebaran adalah tradisi yang dimeriahkan. Setiap rumah membuka pintu untuk menerima kunjungan tetangga. Tuan rumah menyediakan kue dan minuman yang disediakan untuk tamu yang datang. Termasuk yang bukan Islam, seperti Mbah Sukito sekeluarga.
