Saya mendapatkan foto (seperti yang di atas) yang memperlihatkan kebersamaan warga saat rewang. Ada bagian membersihkan bahan, menyiapkan bumbu, memasak, dan mendekorasi tenda. Semuanya ambil bagian.

Ada juga warga yang membantu secara materi. Bantuan seperti ini dicatat. Mereka –setiap keluarga, memiliki buku catatan sumbangan yang mereka terima saat perkawinan, dan atau sunatan anak lelaki. Kelak, apabila tetangga menyelenggarakan hajatan, mereka akan membalas sumbangan materi.

“Kalau tidak ikut, yo… tak enak,” kata Pak Muri.

Mae juga mengatakan hal senada. Ada konsekuensi atau sanksi moral jika seseorang abai pada kebersamaan itu.

“Kalau sering tidak ikut, bisa kena kucilkan orang nanti”.

Sumbangan materi juga terjadi saat pembangunan rumah. Sudah biasa, jika ada seseorang yang akan membangun rumah, tetangga –terutama keluarga yang lain, menawarkan bantuan; entah itu dalam bentuk semen, atap seng, dan lainnya.Tambahan lagi, warung selalu bersedia memberikan talangan untuk bantuan itu.

“Maka, kalau mau membuat rumah, agak gampang,” ujar Lek Rin, seorang warga yang ditemui di rumahnya. Dia menyebutkan beberapa buah rumah yang dibangun baru, dalam beberapa bulan lalu.

Gotong royong insidentil juga ada. Bila ada orang yang sakit agak berat warga menyumbang untuk biaya berobat. Selain itu, sebelum ada jalan darat dan sepeda motor, warga menolong menggotong si sakit hingga sampai di dermaga perahu motor, di Sungai Sambas.

Kebersamaan dalam masyarakat bisa juga dilihat dari kegiatan ekonomi. Kelompok kerja sudah dibentuk sejak dahulu. Menggarap ladang bersama. Sekarang kelompok itu menjadi menjadi kelompok tani (Pok-Tan), khusus untuk koperasi sawit, menggantikan kelompok kerja ladang padi yang sudah hilang.