Menurut Mbah Sukito, tradisi ini mereka lakukan karena dalam keluarganya, multi agama; Islam dan Protestan. Mereka ikut lebaran karena keluarga dan tetangganya ada yang beragama Islam. Selain itu, Mbah Sukito salah satu sesepuh di kampung. Rumah sesepuh sering dikunjungi semua orang. Dan, ini menjadi salah satu kearifan Mbah Sukito dalam menjaga kebersamaan dan kerukunan.

Pak Muri, tokoh masyarakat Sidodadi yang ditemui awal Juni 2020, mengatakan perbedaan suku dan bahasa ada sejak wilayah kampung ini pertama kali ditempati, sekitar tahun 1983. Kala itu, orang dengan latar belakang suku, bahasa dan agama berbeda membaur dalam program transmigrasi. Sebagian besar orang Jawa, Sunda, dan Melayu lokal yang disisipkan.

Dalam perkembangannya kemudian, penduduk trans berkurang karena sebagian tidak betah di lokasi. Ada yang pindah lokasi, ada yang balik kampung asal.

Seiring perjalanan waktu, keadaan mulai “membaik” dan stabil karena lahan dan pemasaran mulai bersahabat dengan warga trans. Lalu, penduduk bertambah satu dua karena pernikahan dengan orang luar komunitas, dan kelahiran. Hingga, pada hari ini (tahun 2020) di kampung Sidodadi ini ada orang Jawa, Sunda, Melayu, Madura, dan Dayak.

Merawat Kerukunan di Daerah Pusaran Konflik
Warga Sidodadi sedang “Rewang”

Bahasa Jawa kasar menjadi bahasa utama di sini. Tetapi, bahasa Melayu (Sambas) dan bahasa Indonesia juga mendapat tempat. Begitu pun dengan bahasa Sunda.
Di beberapa jalur, orang Jawa sangat biasa menggunakan dua atau tiga bahasa. Mereka bisa menukar penggunaan bahasa sesuai lawan bicara dan konteks. Ada penyesuaian.

Modal sosial, gotong royong dan kebersamaan tertanam kuat di tengah masyarakat. Budaya “Rewang” menjadi pengikat dan modal berharga. Setiap keluarga yang menyelenggarakan hajatan, pasti akan dibantu oleh warga.