Kenapa mereka pada takut dengan Om Max? Karena kritik-kritiknya pedas. Jika tak terbiasa menerima kritik, kuping dipastikan merah. Nah, daripada kena semprot soal vokal yang tak beres, perihal wawasan yang sempit dalam bersiaran di udara, lebih baik menghindar.

Saya beruntung pada dua hal. Pertama bahwa saya bukan penyiar. Dengan demikian saya hanya pendengar. Ya mendengarkan “ceramah” Om Max kepada kekawan seraya melakukan penilaian. Bahwa sesungguhnya apa yang diceramahkan Om Max adalah benar adanya. Hal itu apabila kita mau maju dan profesional. “Budak Pontianak tu tak bise dibilang baek-baek tadak akan berobah. Kalo dikritik pedas macam ditampar, baru bisa berubah,” katanya seraya menjelaskan gaya tersebut ditirunya dari Sultan Hamid.

“Tagline Volare, Power of Communication itu usulan saya,” kata Om Max. Dia kerap kali berceramah soal maksud, tujuan dan sasaran dari tagline itu. Irisan ceramahnya itu tertuju pula ke saya karena saya reporter radio berita pertama (swasta) di Kalbar itu. Saya membayangkan betapa radio memang merupakan power terhadap komunikasi. Cepat. Tidak seperti koran yang menunggu terbit keesokan harinya.

Kedua, saya adalah reporter. Sebagai reporter, Om Max pernah menugasi saya mewawancarai Danrem 121 Alambana Wanawai. Saya laksanakan dengan baik, kendati dengan tape recorder merk Sony berisi delapan batere ABC, sehingga dapat dibayangkan besarnya tape recorder tersebut. Teman-teman berseloroh, “Tape recorder ente nih Nuris, kalau dilemparkan ke anjing, mati anjing tuh.”