Tidak hanya puas bahwa lambang negara elang rajawali dari Kerajaan Sintang bisa dipamerkan di Pontianak, tetapi juga papan pameran Museum Konferensi Asia Afrika yang sudah dihibahkan kepada Museum Sintang bisa diboyong ke Gedung Arsipda. Sekda Kalbar Drs HM Zeet Hamdy Assovie, MTM yang kala itu membuka pameran berucap, “Sebegitu hebatnya Sultan Hamid II dalam membingkai Indonesia lewat karyanya,” ujar Zeet seusai menonton film dokumenter Hamid Perancang Lambang Negara produksi Museum Konferensi Asia Afrika. Om Max memberikan sambutan di acara pembukaan pameran. Dia menguraikan betapa cerdasnya pikiran Hamid, bahwa Kalbar dibangunnya dengan dasar pluralitas, begitu juga dengan Republik Indonesia. Itulah ikatan antara sila ketiga Persatuan Indonesia dengan seloka Bhinneka Tunggal Ika yang dicengkeram Garuda. Hamid adalah diplomat ulung. Menguasai 7 bahasa internasional.
Di malam hari seusai persiapan ruang pameran, saya bermimpi. Seorang pria berjubah dan bersorban putih berada di halaman Mesjidil Haram daerah Bukit Marwah. Persis daerah yang dahulu ada tugu jam dan tempat di mana jamaah bersedekah kepada burung merpati.
Saya berada di hadapan pria bermuka tirus tersebut. Pria yang saya mimpikan itu mirip seseorang yang fotonya dipajang di Gedung Arsipda. Sosok Sultan Hamid Alkadrie I.
Pria bertubuh kurus tinggi tersebut memegang tanaman di genggamannya. Tanaman seperti bayam itu di sebelah kanan berwarna hijau, sedangkan di sebelah kiri berwarna merah. “Tanpa berkata-kata, Beliau memberikannya kepada saya.” Begitu cerita saya kepada Om Max.
Berlandaskan mimpi yang hanya saya ceritakan kepada Om Max dan istri itu, Om Max kemudian berkata, “Kalau suatu saat ke Jakarta, sama-sama kita ke makam ulama Muara Angke.”
