Di saat saya menuliskan Sejarah Gegana Republik Indonesia, saya berkesempatan lama berada di Jakarta. Di suatu waktu yang kami sepakati bersama, pergilah menuju Muara Angke. Di sepanjang jalan Om Max bercerita bahwa ulama “keramat” yang setiap waktu ramai diziarahi adalah sosok luar biasa. “Beliau putra Sultan Syarief Abdurrachman Alkadrie. Sosok yang dalam mimpi bertemu ente.” Om Max yang mengenakan kopiah haji dengan syal putih di pundaknya senyum khas. Matanya nyaris tertutup.

Di makam Muara Angke saya melihat betapa keturunan Sultan Pontianak “diwongke” oleh penduduk Betawi sejak 1751. Betapa sejarah Indonesia turut diukir putra-putri Bumi Khatulistiwa. Saya mematrikan diri kebanggaan atas nusa dan bangsa. Serta tentu saja keulamaan Kesultanan Kadriah Pontianak.

Om Max “bela-belain” membawa ke makam Muara Angke untuk menyambungkan ilmu jurnalistik dan kepenulisan. Liputan semesta.

***
Sejak peluncuran buku biografi politik Sultan Hamid II di tahun 2013, sejak saat itu pula menguat upaya yang lebih dari sekedar buku. Yakni mengupayakan nama Hamid bisa diakui negara sebagai pahlawan nasional.

“SBY pernah menjanjikan saat kampanye di keraton kadriah. Tapi sampai akhir dua periode tak ada kabar beritanya.” Om Max tampak agak kecewa.

Om Max berupaya meneruskan upaya itu di saat Jokowi naik ke posisi RI-1. Tepatnya manakala Jokowi mendatangi Mesjid Jami terkait Festival Kapuas, 2014. “Hanya bisa diucapkan saat bersalaman,” kata Om Max.