Karakter atau pendidkan karakter sepertinya menjadi pintu masuk untuk kemudian menghantarkan kata kuncinya, yaitu bekerja maksimal, melakukan ikhlas, dan meningkatkan kemampuan diri (self competence updating). Kata kunci ini yang sepertinya menjadi kompas mengarahkan kemudian ke tampuk puncak kursi Disdikbud KKR. Selain itu, juga menjadi bekal asasi mengarungi dunia kepegawaian negeri selama 32 tahun.

Pada gilirannya, terlontar perspektif Pak Ayub dalam dunia pendidikan yang terkait erat dengan membangun manusia. Pembangunan manusia bermakna pendalaman (internalisasi) yang secara praksis melalui proses. Tidak hanya mengajar memberikan ilmu dan besok mendapat gaji, tetapi perlu mencerna terlebih dahulu apa yang nanti akan diberikan kepada anak didik terkait dengan pembangunan manusia.

Proses internalisasi materi ajar tersebut memudahkan transformasi penanaman pola pikir dan karakter kepada anak didik. Transformasi pendidikan tersebut akan memberi kekuatan ingatan apa yang diajarkan kepada guru-guru mereka.sebagaimana ingatan sekarang ini kepada para guru masa dulu yang pernah mendidik. Pak Ayub tampaknya memandang bahwa transformasi pendidikan tidak sekadar ranah tatap muka, tetapi ruang tatap hati demi membangun karakter.

Kenangnya, ingatan kepada guru-guru masa lalu terpumpun pada penanaman karakter, sikap, dan konsep pola pikir. Sikap mental itu membekas dan berpengaruh besar dalam bersikap pada saat ini. Justru kenangan itu tidak semata kepada pemberian nilai tinggi, mengajarkan menulis tegak bersambung. Oleh karena itu, ruang tatap hati berdampak panjang (long life) bagi seorang murid kelak ketimbang ranah tatap muka yang bersifat sementara.