Tak pelak, Pak Ayub menceritakan saat mengikuti tes seleksi kepala dinas di lingkungan KKR. Terdapat kuesioner, “apa faktor kekuatanmu sehingga mengikuti seleksi ini”, dijawabnya, “saya tidak malu bertanya”. Kekuatan ini yang dialami dan dirasakannya sehingga sampai dapat keliling di enam Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) eselon empat, di antaranya perhubungan, kominfo, pelayanan terpadu, dan pariwisata. Karena kekuatan itu, kominfo jauh dari dunia pendidikan dapat dijalani dengan baik. Tidak malu bertanya, belajar, dan segera mempelajari.
Ngopi pagi semakin hangat sampai jatuh pada obrolan tentang tradisi Melayu terkait dengan pendidikan. Menurut Pak Ayub, orang zaman dulu mendidik melalui petuah-petuah, salah satunya adalah tutur bahasa kepada orang yang lebih tua. “Jangan sampai menjawab oi oi ketika dipanggil orang tua kecuali dengan sebaya”, tukasnya. Karakter semacam itu yang mengantarkan sampai sekarang dengan prinsip yang dibangun dari tradisi yang melekat selama ini.
Tak kalah penting, tunjuk ajar masa lalu yang bermanfaat sampai sekarang, yang disebut oleh Pak Ayub adalah pendidikan kewirausahaan, mental kerja. “Ke ladang ke sawah, noreh getah, kalau musim hujan atau saat libur pergi ke hutan cari jamur cendawan, cari pakis, merupakan pelajaran untuk daya juang”, tegasnya sambil mengenang masa lalu. Tradisi masa lalu terkandung kisi-kisi pelajaran yang bermanfaat di kemudian hari.
