Sebaliknya, salahkah si rambutan dan si kuning langsat yang tidak bisa membuat konsumen “terliur-liur” untuk mampir mencicipinya? Tidak juga. Cita-rasa itu sudah ditakdirkan oleh si pembuatnya. Itu rahasia Tuhan kepada masing-masing kelompok buah.

Lalu, dari demokrasi pasar buah, apa yang bisa kita ambil pelajarannya? Bahwa setiap jenis dan kelompok itu sudah ada marketnya! Sudah ada kelompok yang suka dan tidak suka. Akan ada kelompok yang pro dan kontra.

Demokrasi buah lokal kita tidak boleh putus hanya silih berganti kontestasi yang senantiasa dimenangkan oleh durian, namun sesungguhnya demokrasi buah impor lebih merajai pasar buah kita. Lihatlah, pada saat membuat parsel buah, yang dibawa ke meja para pembesar, isinya bukanlah durian, melainkan apel, pear, kiwi, anggur.

Begitupula untuk buah tangan ketika mengunjungi sanak-famili ke rumah sakit. Semua itu buah impor…Menilik hal ini, langsat paling memungkinkan untuk didesain sedemikian rupa. Jika pakar hereditas–pemuliaan tanaman kita bisa fokus sehingga dapat memproduksi langsat tahan 1-2 minggu di pasar terbuka, yakin juga laik diparcelkan. Begitupula rambutan, manggis, rambai…

Kepada demokrasi buah yang berorientasi pasar, kita semestinya bisa menggunakan akal sehat. Bahwa kemenangan menguasai pasar itu ditentukan oleh rasa. Oleh tekstur, struktur dan juga kultur.

Rasa legit yang ditawarkan merasuk ke alam bawah sadar konsumen. Harga setinggi apapun rela dipungkasi. Receh di kocek rela diceluk lebih dalam lagi. Pasar yang mengejar…