Kalau demokrasi buah selalu dimenangkan oleh durian, itu sudah takdirnya oleh karena sifat bawaannya. Oleh karena daya survivalitasnya yang tinggi. Dengan harga tinggi saja masih diburu konsumen, apalagi pada saat panen raya dengan harga rendah. Bertuik-tuik masyarakat luas menikmatinya.
Apel, pear, kiwi dan anggur hadir di pasar dengan penampilan yang yahud. Mereka didesain panen tanpa mengenal musim. Mereka hadir di pasaran seperti tak pernah ada putus-putusnya. Sementara soal rasa, terus ada up-date, karena penelitian tentang hereditas mereka ditongkrongi para ahli botani.
Nah, ketika masa panen raya durian perlahan surut, buah lainnya beringsut naik. Ini bukan karena durian kalah, tetapi memang sunnatullah. Bahwa kemenangan itu dipergilirkan.
Tapi demokrasi itu bukan soal menang dan kalah. Menang dan kalah adalah sebuah konsekwensi dari sebuah kontestasi. Sebab setelah satu kompetisi selesai, kompetisi lainnya datang menghadang.
Kalaupun rambutan atau langsat “naik daun” di mata pasar, buah apel, pear, kiwi, anggur senantiasa datang menantang! Pasar yang kemudian terus menentukan pilihan.
Saya ingin mengulangi sebait argumentasi di atas, bahwa, “Demam one man one vote tidak hanya di kontestasi caleg partai maupun capres. Demam serupa terjadi di pasar buah kita. Sungguh, kampanye senyap telah terjadi saban musim. Sehingga kita tak sepatutnya latah…”
Banyak energi yang kita butuhkan untuk fokus melawan raja buah sub-tropis yang dipimpin apel dkk itu. *
