Pertama, pesan yang secara implisit termaktub dalam deretan bait puisi tersebut. Bisa dimaknai kekecewaan yang mendalam sekaligus kemarahan yang membuncah kepada satu keadaan. Tidak perlu kiranya penulis membuatnya menjadi terang.

Kedua, kekecewaan dan kemarahan yang dituangkan ke dalam puisi yang implisit sebenarnya adalah sebuah sindiran halus bahwa tidak bisa dikatakan secara langsung amanahnya. Untuk mengatakan kepada pihak yang dituju, bahwa kami tidak lagi berani menyuarakan perasaan dan keyakinan kami tentang kebenaran, di hadapan kalian yang berkuasa. Kami takut menyatakan secara langsung perasaan dan kekecewaan yang dirasakan.

Ketiga, ini juga sekaligus pesan bahwa mereka yang dimaksud puisi itu bahwa kekuasaan yang kalian jalankan sudah “off side”. Sudah keluar dari koridor demokrasi. Namun buat mengatakan terus terang tidak ada lagi keberanian. Karena kami tidak kuasa dibully atau dipersekusi, apalagi dianggap makar. Kira-kira demikian insinuasi ini, jika diujarkan.

Jika benar apa yang ditangkap oleh penulis, maka ini sebenarnya sebuah isyarat yang krusial sedang didawuhkan kepada yang berkuasa. Ada kondisi yang sedang menjadi perhatian dan penilaian publik terhadap jalannya kekuasaan.