Barangkali ada yang beranggapan, “ah itu hanya sekedar ungkapan personal sang Ustadz”, yang sedang dalam posisi berseberangan dengan kekuasaan. Bukan mewakili pandangan sebagian besar ummat. Silakan saja barangkali jika mau berpikir demikian. Namun jika pertanyaan kita buat seperti ini, “apakah silent majority juga berpandangan yang sama, cuma level ketakutannya lebih-lebih lagi, sehingga lebih memilih tutup mulut sama sekali. Karena tidak ada keberanian mengungkapkan, meski hanya melalui bait-bait puisi. Karena diamnya mayoritas ummat dan masyarakat kita mengandung beragam misteri. Sulit menerka ke sudut mana pendulum dukungannya.

Jadi esensi dari hadirnya puisi ini menyiratkan ada penyempitan ruang bersuara, karena rasa takut dan tertekan. Dalam kacamata psiko-sosial, ketika publik “memekikkan” rasa takut dan tertekannya, sebenarnya ini adalah “lonceng tanda bahaya”. Mengapa demikian, karena orang yang tertekan dan takut bisa saja sampai kepada titik nadir amuk terendahnya, dan akan berubah menjadi amarah yang tak bisa dikendalikan lagi. Baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain. Kalau ini terjadi tentu ini akan merugikan kita semua.

Oleh karenanya kita mesti berpikir positif. Karena sejatinya ketika puisi-puisi seperti puisi Sang Ustadz dituliskan ini adalah cara halus dan bijaksana memberikan “tamparan”, sehingga tidak perlu yang dikritik kehilangan muka. Bahkan sebaliknya, mestinya berterima kasih karena ada yang mengingatkan dengan cara-cara yang beradab. Cara mengingatkan yang paling halus dan patut adalah dengan sindiran melalui kiasan/analogi. Karena selain tidak menjatuhkan air muka, juga akan lebih menusuk amanah dan pesannya.