Pada tahun 1950, Partai Dayak kekurangan dana untuk kongres partai. Lim Bak Meng membuat sebuah perusahaan perdagangan kecil, tapi perusahaan ini tidak sukses yang namanya NV Tjemara. Perusahaan ini ia buat untuk mendanai kongres Partai Dayak pada tahun itu. Partai ini sudah melakukan 2 upaya lain, yakni mengharapkan bantuan relawan dan membuat suatu kebijakan lain, yakni 3 persen PNS Dayak disuruh memberikan 3% gaji mereka untuk pendanaan ini.
Liem Bak Meng dicatat sebagai tokoh pejuang yang mengedepankan pluralisme dan NKRI. Liem Bak Meng tetap berpegang teguh pada NKRI, meskipun kurun 1950, berdiri Republik Indonesia Serikat (RIS). Saat penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia (khusus wilayah Kalbar), tepat pukul 16.00, 29 Desember 1949, bersama-sama dengan Oevaang Oeray, Korak Guru Saleh, dan M Rifai, ia menurunkan bendera Belanda, lalu menggantinya dengan Sang Saka Merah Putih.
Liem Bak Meng juga memiliki kontribusi besar pada pembebasan Irian Barat. Ketika itu, pada 20 Mei 1958 dia menjadi anggota Dewan Pleno Front Nasional Pembebasan Irian Barat di daerah Kalimantan Barat. Dia juga tercatat sebagai pendiri klinik “Kharitas Bhakti”, yang sekarang dikenal sebagai RS Kharitas Bhakti di Pontianak.
Pada 1951 ia menjadi anggota KMK Kalbar. Tahun 1952 ia mendirikan Partai Katolik Komisariat Kalbar dan memegang jabatan Ketua I. Partai ini kemudian menjadi salah satu yang paling diperhitungkan di Kalbar saat itu. Kemudian, pada 20 Mei 1958 dia menjadi anggota Dewan Pleno Front Nasional Pembebasan Irian Barat di daerah Kalimantan Barat. Dia juga tercatat sebagai pendiri klinik “Kharitas Bhakti”, yang sekarang dikenal sebagai RS Kharitas Bhakti di Pontianak.
