Akhirnya, semua tendensi negatif atas Sultan Hamid mesti segera diakhiri pada era Pandemi Cofid 19 ini sebagai bonus Work From Home di mana kita lebih jeli mengkaji sejarah NKRI yang kita amat sangat cintai ini. Tentunya tanpa tendensi apa-apa yang subjektif. Tentu atas kajian ilmiah tanpa emosi melainkan rasional-profesional. Hal ini sesuai dengan amanat Bapak Presiden RI Ir H Joko Widodo untuk “membajak” Pandemi-Covid 19 dengan spirit NKRI agar kita terbebas dari resesi. Juga “gerak cepat” kerja-kerja-kerja. Termasuk “membajak” resesi sejarah NKRI itu sendiri.
Mari kita bersihkan nama Allahyarham Sultan Hamid bahwa Beliau itu nasionalisme sejati kepada Republik Indonesia. Beliau lahir dan dimakamkan di Indonesia. Beliau berjasa atas pengakuan kedaulatan RI selaku Ketua BFO bersama Drs Moh Hatta sebagai ketua delegasi mewakili Indonesia di KMB-Den Haag, Belanda, 1949.
Allahyarham Sultan Hamid II berjasa mewariskan Lambang Negara dan Gedung Pancasila selaku Menteri Negara Zonder Porto Folio Kabinet Republik Indonesia Serikat. Allahyarham berjasa mewariskan lapangan terbang di Kalimantan Barat, mewariskan semangat pluralitas di Kalimantan Barat dengan pembentukan Kompi Dayak dan anggota Dewan Pengurus Harian Daerah Istimewa Kalimantan Barat yang multietnis–dimana spirit kemajemukan sekarang rentan sekali di NKRI–begitupula semangat otonomi daerah yang sejak orde reformasi ditabalkan ke dalam UU Otonomi Daerah.
