Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Komunisme atau ko·mun·is·me n adalah paham atau ideologi (dl bidang politik) yang menganut ajaran Karl Marx dan Friedrich Engels, yang hendak menghapuskan hak milik perseorangan dan menggantikannya dengan hak milik bersama yang dikontrol oleh Negara.

Terlepas dari perdebatan soal kebenaran, apakah itu soal hak kepemilikan bersama atau perseorangan, atau lainnya, saya memang tak sepakat dengan Komunisme. Soal kepemilikan, kita memiliki hak untuk memiliki alat-alat produksi seperti kepemilikan atas tanah, modal, atau tenaga kerja. Ini bertentangan dengan paham komunisme yang tak mengakui hak kepemilikan individu. Mereka menganggap semua adalah milik bersama, itulah salah satu kesesatan cara berpikir mereka.

Namun ada yang lebih penting dalam hidup. Yaitu, konsep Ketuhanan. Bagaimana bisa kita bernegosiasi dengan paham tersebut, bila peletak dasar pertama ideologi itu tak percaya Tuhan? Ajaran tentu turun menurun. Tak boleh bila tak lengkap diceritakan, namanya ada karena diabadikan oleh penerusnya. Tentu menjadi bahaya bila dia bertentangan dengan Islam, dan dalam sejarahnya pernah berupaya memaksakan pahamnya dengan kekerasan.

Karl Heinrich Mark (1818 – 1883). Pria asal Prusia (Kerajaan Bangsa Jerman) ini memiliki darah Yahudi di dalamnya. Dulu dia seorang Protestanisme, tapi kemudian hari memilih untuk tak beragama, tak percaya pada keberadaan sang pencipta. Atheis (Ateisme) menjadi pilihan hidup, sembari meninggalkan gagasan kontroversi bernama “Manifesto Komunis” bersama Friedrich Engels, “dua guru besar sosiologi dan pemimpin pergerakan kaum buruh modern”, hingga hari ini.