Setelah itu, aliran Komunisme ini tetap tak dilarang, bahkan masih dibiarkan berkembang dan diakui eksistensinya. Pada tahun 1951 DN Aidit tampil sebagai orang nomor satu ditubuh PKI, dia terus bermanuver hingga pada tahun 1955 untuk pertama kalinya menjadi salah satu partai pemenang pemilu. Puncak ‘prestasi’ tertinggi PKI adalah menguasai eksekutif. Pentolannya, DN Aidin dan Nyoto berhasil mempengaruhi Presiden Sukarno dengan NASAKOMnya, dan menjadi Menteri Penasihat Presiden.

Di situlah, terlihat bagaimana keinginan dan nafsu yang besar untuk meminta Pemerintah mempersenjatai 25 juta orang buruh dan tani sebagai angkatan ke 5 dalam tubuh militer di Indonesia. Dapat kita bayangkan berapa banyak korban, bila memang benar terealisasi keinginan tersebut. Semua adalah ide Aidit, ide Dipa Nusantara Aidit, seorang ketua CC (Central Committe) PKI.

Banyak pembunuhan dan kekacauan yang dibuat oleh PKI. Puncak kekacauan itu adalah penculikan dan pembunuhan enam orang jenderal TNI Angkatan Darat (AD), satu orang perwira menengah, dan satu orang polisi. Para Jenderal tersebut antara lain: Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen MT. Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan, dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.

PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga Rumah Kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan Rumah Jenderal A.H. Nasution. PKI juga menembak Putri Bungsu Jenderal A.H. Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi Perisai Ayahnya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.