Tak boleh ada peluang, tak boleh ada legitimasi. Barangkali mereka akan tetap berjuang untuk mengembalikan eksistensi mereka. Tapi kita, kita tak boleh lengah dan tetap terus waspada. Mereka tetap mendapatkan hak yang diatur oleh Konstitusi kita, sebagai warga Negara. Tapi tidak untuk terlembaga. Tidak untuk memancangkan paham, ajaran, dan organisasinya.
Bahaya Komunisme adalah memang bahaya laten. Tapi, sudah menjadi tugas kita untuk mendidik anak, putra dan putri kita untuk tetap tegak di atas jalan yang benar. Tetap pada tauhid yang benar. Semua yang ada dalam rangkaian cerita, memang membuktikan bahwa Komunisme adalah ideologi buruk dan nyata.
Tapi, sekarang, tak ada lagi perang menggunakan palu arit, namun perang dengan menggunakan palu nalar. Maka dari itu kita harus melawan dengan hal yang sama. Siapkan para pejuang muslim dalam tubuh dan jiwa generasi kita. Generasi penerus dengan landasan Qur’an, Sunnah, dan Keilmuan. Bukan caci-makian. Bukan kekerasan.
Siapkan generasi muda kita menjawab tantangan zaman yang tak hanya sekedar teriakan penolakan. Tapi nalar dan sebuah landasan.

Terima kasih kepada Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PW Muhammadiyah Kalbar, PW IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) Kalbar, dan KNPI Kab. Kubu Raya, sebagai penyelenggara yang sudah mengundang saya sebagai salah satu narasumber pembuka acara sebelum “Nonton Bareng”, bersama Dr. Pabali Musa (Ketua PW Muhammadiyah Kalbar) dan Dr. Firdaus Zar’in (Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak).
Salam.
Pontianak, 01 Oktober 2017.
AD
