Paham yang diciptakannya itulah yang kemudian hari diikuti jejaknya oleh Vladimir Lenin yang memimpin pembantaian 7 juta orang dalam Revolusi Bolsevik di Uni Soviet. Pemikiran yang sangat berbahaya dari dirinya adalah pernyataan dalam tulisannya “Sosialisme dan Agama”, yang menyebutkan bahwa “agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi, dan penyebutan agama seseorang dalam dokumen harus dibatasi”. Ini tentu melanjutkan cara berpikir Karl Marx bahwa “agama adalah candu bagi umat manusia”.

Tak cuma Lenin yang melakukan pembunuhan masal atau pembantaian terhadap umat manusia, dalam melancarkan kampanye komunismenya. Joseph Stalin melakukan pembantaian dengan angka yang jauh lebih besar, 20 juta orang manusia. Begitu juga dengan Mao Zedong, dan lainnya. Di Cina, jumlah korban meninggal diperkirakan mencapai pada angka 80 juta orang manusia. Itu angka pembunuhan terhadap manusia. Manusia, bukan binatang.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Di Indonesia setidaknya sudah Tiga kali upaya pemberontakan dan kekacauan yang sudah dibikin oleh PKI atau organisasi sayapnya yang berpaham Komunisme. Pada tahun 1928, mereka mencoba melakukan aksinya yang kemudian hari ditindaklanjuti dengan hukuman oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian pada tahun 1948, tiga tahun sesudah Indonesia merdeka, perkembangan Komunisme sedemikian subur, namun mereka tetap membuat ulah dengan melakukan pembantaian terhadap santri-santri di pesantren di Jawa Timur. Kabarnya pada Oktober 1948, pimpinannya bernama Muso dieksekusi mati.