Mengapa wajah? Oleh karena hidung dan mata dan mulut berada di wajah. Bila jemari yang sudah tercemar virus corona yang kita tidak tahu entah dari mana tercemar di tempat publik, lalu menyentuh wajah, virus akan menjalar dengan mudah ke hidung, mata, atau mulut.

Termasuk di dalam kabin pesawat. Kita tidak tahu apakah dalam pesawat sedang ada pengidap virus corona. Dalam masa inkubasi atau masa tunas, pengidap virus belum memperlihatkan gejala, namun di saluran pernapasannya sudah ada virus corona yang setiap saat siap tersemprotkan lewat batuk dan bersin, atau bercakap-cakap.

Virus yang melekat pada benda atau peralatan di sekitar pengidap akan segera mati juga dalam hitungan jam. Virus bertahan lebih lama, mungkin 3-4 jam bila berada di lendir, liur, atau cairan, dan bukan di benda mati.

Lalu apa artinya ini? Hanya apabila jemari kita menyentuh semua barang yang berada di sekitar pengidap dan virusnya belum mati saja, dan kita menyentuh wajah, memasukkan jari ke hidung mengucek mata, maka kita baru akan tertular.

Lalu bagaimana orang-orang yang berada jauh dari pengidap virus? Barang tentu tidak mungkin tertular. Jangankan orang yang berada sekota, setetangga dengan pengidap corona saja pun atau ada yang positif mengidap virus corona, kecil kemungkinan tertular. Kasus positif corona sudah pasti tidak berkeliaran, atau hanya mungkin berkeliaran kalau lolos dari deteksi, atau tidak mau berobat walau flu dan sesak napas. Tapi ini kecil kemungkinan.