Fokus yang saya lihat selain survey adalah siapa di balik tokoh tersebut. Untuk Karol, sudah jelas ada kekuatan sang ayah yang merupakan mentor politiknya. Kekuatan yang dimiliki Cornelis tak mungkin akan disia-siakan. Sebab dia menang telak dari dua kali pesta demokrasi di Kalbar. Periode pertama dia punya tagline ampuh ” Bersatu Kita Menang”, dan kedua, “Bersatu, Berjuang, Menang!”. Jurus maut tersebut saya tebak akan dimainkan kembali dengan harapan mencapai kemenangan lanjutan. Untuk itu pasangan yang paling moncer adalah Gidot dari Partai Demokrat. Sebab Gidot menjadi pasangan ideal lantaran berlatar agama Kristen dan berasal dari sub etnik Dayak minoritas. Tentu di luar Gidot ada pasangan yang senada seperti Hasan Karman (refresentasi dari Christiandy sanjaya yang dua periode mendampingi Cornelis yang memeluk agama Katolik. Sama-sama etnik Tionghoa dan berakar di Singkawang. Kristen pula).

Bagaimana nasib Lazarus? Sebagai kader partai, dia pasti terus berusaha tampil sebagai calon yang direkomendasikan. Namun, bagi Lazarus, tentunya, direkomendasikan atau tidak, juga tidak ada ruginya. Sebab dana sosialisasi saat ini tetap menguntungkan untuk kampanye pemilu legislatif. Dia tetap panen dari sosialisasi saat ini walaupun tidak maju dalam kontestasi Pilgub. Dia bahkan turut menyukseskan Karol sesama kader partai terbaik,karena turut membuat buyar fokus balon parpol lainnya, sebab jika Lazarus yang elektabilitasnya lebih rendah yang direkomendasikan pusat, maka kandidat lain lebih bersemangat untuk mensuksesi hegemoni PDIP di Kalbar.
