Pukul 7 sebagai jadwal keberangkatan kami agaknya tak terlalu jauh meleset, sebab hanya selang beberapa menit bus Damri pun datang. Supir bus sengaja menekan-gas sehingga terdengar seperti meraung-raung ditambah bunyi klakson berkali-kali untuk menarik perhatian.
Penumpang tak perlu komando segera bersiap menuju bus dibantu kernek merapikan tas, koper dan barang bawaan di bagasi bawah dan satu persatu penumpang menaiki bus. Agaknya bus Eva tujuan Kuching di sebelah kami pun bersiap berangkat. Halaman luas terminal di pagi ini hanya tampak dua buah. Setelahnya sepi kembali.
Sempat berfoto bersama, saya berpamitan pada suami yang juga akan menyusul ke Brunei selepas tugasnya usai dari Papua 3 hari ke depan. Saya duduk bersebelahan dengan Ipah, sementara Setia Purwadi di sebelah Ipah setelah lorong bus. Fahmi dan Mulyadi duduk di belakang saya dan Ipah.
Kami membandingkan kondisi bus Damri yang berbeda dari bus Eva khususnya jumlah kursi. Eva berjejer 3, sementara Damri 4 kursi. Praktis di Damri lebih sempit.
Well Damri menjadi kendaraan yang akan mengantarkan kami ke Bandar Sri Begawan, setidaknya lebih dari sehari semalam. Sementara Eva ke Kuching hanya menempuh perjalanan 8-9 jam ke depan. Yup, latihan mental dan kesabaran. Untung saja Ipah di samping saya ini bertubuh ramping, sehingga masih cukup ruang buat bergerak. Di setiap kesulitan, selalu ada kemudahan. Begitu batin saya.
Sebelum jalan, tiba-tiba suami pun naik sejenak dalam bus untuk memperkenalkan pada seorang penumpang. “Mi, ini anak asuh pak Turiman, dia sering ke Brunei, ada perlu apa-apa tanya saja dia.” Turiman adalah dosen pakar hukum tata negara di Fakultas Hukum Untan.
