Community

One Way Or Another

One Way Or Another

Oleh: Tuti Alawiyah

“Baiklah teman-teman, apakah ada yang berbeda pendapat?” tanya temanku, Febry selaku moderator, saat kami berdiskusi.

Baca Juga:Tanam Saja

Saat itu hanya ada satu kelompok yang menyampaikan pendapat atas pertanyaan yang diajukan oleh moderator. Sedangkan kelompok lainnya mengatakan, “Sama”.

Aku yang waktu itu duduk paling depan dekat pintu masuk bersama teman kelompokku, Umar dan Safit, memandangi teman-teman di sekeliling. Karena kami menunggu pendapat lainnya, setelah barusan Umar telah menyampaikan pendapat hasil dari diskusi kami.

“Sama” beberapa perwakilan di setiap kelompok bersuara.

Jarak kira-kira 5 meter terlihat jelas raut wajah dosen yang mengajari kami mata kuliah … ini tampak suram, dan terlihat tidak senang.

Ketika itu, dosen yang selalu memakai kaca mata hitam dan berkopiah hitam, kebetulan mengenakan baju koko putih dan bercelana hitam beranjak dari tempat duduknya, berdiri di hadapan kami. Kukira ia akan berkhotbah lagi atas kurangnya partisipasi kami menyampaikan pendapat atau karena kami kurang semangat mengikuti mata kuliahnya.

“Tak paham aku kalau bapak ini jelaskan nih,” cetus teman di sebelahku saat pembelajaran mata kuliahnya.

“Iye emang,” balas teman sebelahnya.

“Bahasa bapak tuh tinggi benar,” keluhan ini juga yang pernah kudengar saat pembelajaran.