Oleh: Farninda Aditya
“Ade buku baru agik,” kata Emak.
Saya heran maksudnya. Sambil memegang buku Judul Cerita tentang Ninda, terbitan STAIN Pontianak Press, Emak menyampaikan kalimat tersebut. Tentu saya bertanya maksudnya.
“Ade dapat buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, tadik. Untuk Besok.” Saya paham!
Emak mengabarkan, setelah selesai membaca buku yang baru saja ditamatkannya itu, Emak akan memulai bacaan baru. Buku Karya Buya Hamka. Sebelumnya, Emak pernah bercerita tentang buku Buya Hamka lainnya, Di Bawah Lindungan Ka’bah. Buku punya Datok. Emak bercerita singkat tentang kisah cinta Hamid dan Zainab yang pernah dibacanya, duluuuuuuuu sekali.
“Hamid tu orang misken, Zainab tu kaye. Hamid tu dibantuk orang tue e Zainab. Die beduak tu kawan-kawan maen maseh kecik. Lamak-lamak suke.”
Emak pun menyebutkan pula, belum membaca buku Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Saya mengaku memiliki buku itu dan sudah nonton versi film layar lebarnya. Sayangnya, saya tak ingat persis menyimpannya di rak yang mana.
“Orang pintar Hamka tu, jaman dolok jak bise buat cerite macam itu,” kesannya.
