Membahas tentang Hamka bermula Emak membaca buku Ibuku di Surga karya Koesalah Soebagyo Toer yang baru saja dikirim dari Penerbit Pataba. Buku tersebut seminggu kiranya dihabiskan Emak. Emak tertawa-tawa membaca buku tersebut, beberapa hari ia menceritakan kembali buku tersebut.
“Ade cerite e tu, Emak e tu meninggal, teros anak e heran ngape rumah e ramai. Jawablah Bibik yang baek tu, “Ibumu telah di Surga. Itulah yang jadi judul buku itu,” ceritanya saat saya sedang menyuci baju.
Sebelum membaca buku Ibuku di Surga, Emak baru tamat membaca buku Upacara Adat Suku Adat dan Melayu di Kalimantan Barat untuk Kelas 2 SLTA. Buku itu sengaja dibawanya dari rumah untuk ia baca di rumah adiknya. Bahkan, di tas Emak memang sudah ada buku tentang Ust. Sabran, seorang mualaf yang menyeritakan keberislamannya. Buku itu dibawa dari rumah di kampung sana.
Sudah 2 minggu Emak di rumah. Sudah 2 buku yang saya lihat dibacanya.
Pertama, 99 Nasihat Dahsyat Nabi untuk Wanita. Kedua, Cerita tentang Ninda. Pada kunjungan sebelumnya, Emak juga membaca Ilmu Gaib Kalimantan Barat.
“Pedas mate, lupak bawa kacemate,” ujarnya.
