Di tengah dunia digital yang serba cepat dan instan, Pantunin AI mengambil jalan berbeda: menghidupkan kembali tradisi lisan ke dalam ruang digital yang lebih personal.
Bagi Agus Muare, ini bukan soal aplikasi semata. “Pantun bukan sekadar susunan kata, melainkan marwah bangsa Melayu. Lewat aplikasi ini, kita ingin memastikan pantun tetap berdiri tegak, bukan sebagai kenangan, tapi sebagai identitas yang hidup di zaman sekarang,” ujarnya.
Ia juga melihat persoalan utama bukan pada minat, tapi pada keberanian. Banyak anak muda, kata dia, sebenarnya tertarik. Hanya saja mereka ragu memulai. “Ada ketakutan salah rima, salah suku kata. Aplikasi ini hadir untuk memutus rasa takut itu. Supaya generasi muda bisa mulai berpantun dengan cara yang lebih ringan, lebih santai… dan tetap membahagiakan,” katanya.
Secara teknis, Pantunin AI dibuat sesederhana mungkin. Pengguna cukup memilih tema lalu memasukkan kata kunci, dan dalam hitungan detik, pantun akan tersaji.
Dari situ, pengguna bisa memakainya untuk banyak hal, dari membalas chat, membuat caption media sosial, hingga kebutuhan konten kreatif.
Namun bagi Yaser, ini bukan sekadar soal kemudahan. “Digitalisasi adalah cara kita menjaga warisan. Dengan aplikasi ini, pantun tidak lagi hanya hidup di panggung pengantin atau acara adat, tapi masuk ke WhatsApp, Instagram, TikTok. Ia jadi bagian dari keseharian,” ujarnya.
Peluncuran ini sekaligus menjadi penanda: inovasi tidak harus lahir dari kota besar. Dari Kalimantan Barat, Pantunin AI mencoba menawarkan arah baru: teknologi yang tumbuh dari akar budaya lokal, namun punya peluang menjangkau lebih luas.
